Langsung ke konten utama

Kebebasan Tanpa Arah Menuju Kehancuran

Manusia saat ini semakin lama semakin bebas yang mana selalu mengatasnamakan hak asasi manusia demi kebebasan. Namun kebebasan yang mereka lakukan rupanya banyak yang nyeleneh atau sesuatu yang tidak umum bahkan tidak enak untuk dipandang. Seperti pelepasan hijab, sex bebas, pernikahan sesama jenis dimana mereka beralasan itu adalah hak masing-masing pribadi orang yang terpenting tidak mengganggu orang lain. 

Entahlah kebebasan yang mereka maksud apakah tujuannya mulia atau hanya pemuas nafsu sesaat saja. Bebas yang mereka lakukan hanyalah sebuah perjalanan menuju kehancuran. Persetan memang manusia-manusia yang mengatasnamakan HAM. HAM yang mereka persepsikan rupanya banyak menabrak nilai-nilai sosial dan moral. Bahkan barang teresebut sudah tidak ada artinya.

HAM seakan-akan menjadi sebuah sekte baru dimana manusia seenaknya dan semaunya dalam melakukan segala hal. Padahal sesuatu itu harus ada aturannya. Yang membedakan manusia dengan hewan tentunya manusia memiliki moralitas jika manusia kehilangan moralitasnya maka ia tidak berbeda jauh dengan binatang pada umumnya. 

Yang lebih parahnya mereka justru memaksa orang lain agar mengakui keberadaannya. Bukankah ini tentu bertabrakan dengan HAM itu sendiri dimana ia tidak mau dipaksa namun justru memaksa orang-orang yang normal. 

Tentu yang namanya hak asasi manusia itu tidak lebih tinggi dari struktur sosial dan nilai. Jangan bawa-bawa HAM dan mengatasnamakan HAM diatas segalanya. Seakan-akan HAM ini bisa menggantikan struktur dan nilai-nilai sosial. 

Kebebasan saat ini rupanya kebebasan tanpa arah, buktinya segala sesuatu itu ditabrak. Apalagi kapitalisme yang tentunya menabrak berbagai macam koridor, ilmu, nilai bahkan manusia itu sendiri hanya demi keuntungan semata saja. 

Anak-anak muda yang sombong ia tak mau diatur oleh orang tuanya. Ia sangat percaya diri dengan apa yang akan dicapainya. Namun tetap saja anak muda hatinya belum stabil ia hanya semangat saja diawal namun pas dihadapkan dengan realita langsung mundur. 

Memang sulit sekali untuk mengontrol manusia saat ini hanya hasratlah yang bisa mengontrol itu semua. Diatur salah kalau tidak diatur lebih salah lagi jadi terserah saja memang saat ini jika memang tidak mau diatur dan kemudian ia hancur tidak mesti untuk dibantu. Itulah kehidupan saat ini dimana manusia tidak mau diatur atur lagi oleh yang lain. Padahal dirinya sebenarnya dikendalikan oleh hawa nafsu. 

Manusia jika diberi kebebasan maka ia akan menjadi manusia yang teramat liar dimana ia menjadi manusia yang tidak karuan. Masih mending alam ini tidak seperti manusia karen jika tidak mungkin manusia sudah punah sedari dulu. Alam pun pasti geram dengan kelakuan bodoh manusia itu sendiri. 

Pada akhirnya merekapun akan kehilangan segalanya ia akan kehilangan akal sehatnya, kehilangan, perasaannya, moralitas, sosial bahkan keluarganya. Mereka lebih mementingkan sebuah kebebasan yang tanpa tujuan itu.

Mereka pada saat waktunya akan sadar bahwa apa yang dilakukan saat ini rupanya hanyalah sebuah kebodohan tiada artinya. Yang diberi kesempatan untuk sadar mungkin Tuhan akan mengampuni dosanya namun jika tidak memang sudah tidak ada rasa ampun lagi. 

Manusia itu diberi sedikit kelebihan saja sudah sombong diberi sedikit kebebasan saja sudah semena-mena. Sudah merasa yang paling benar dan semuanya salah. Mungkin Tuhan sedang tertawa melihat makhluk ciptaannya melakukan sebuah kebodohan. Padahal Tuhan menciptakan manusia sudah baik sedemikian rupa namun justru dirinya malah menyeleweng.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Perlukah Seorang Perempuan Memiliki Pendidikan yang Tinggi

. Dilema Perempuan antara memilih mengurus Keluarga atau Melanjutkan Pendidikan Berbicara tentang perempuan dan pendidikan, tentunya ini menjadi dua hal yang menarik untuk dibicarakan. Sejak puluhan tahun yang lalu emansipasi wanita sering disebut-sebut oleh Kartini, sehingga kemudian hal ini menjadi sesuatu yang penting oleh sebagian kalangan. Namun, pada kenyataannya, dalam banyak hal wanita masih kerap ketinggalan, seolah memiliki sejumlah rintangan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik, salah satunya dalam bidang pendidikan. Ilustrasi (Pixabay.com) Meski sampai saat ini semua perempuan dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah seperti halnya pria, namun tidak sedikit juga perempuan yang enggan untuk melakukannya. Sebagian besar wanita merasa puas dengan pendidikan yang hanya menamatkan bangku SMA saja, bahkan ketika bisa menyelesaikan sarjana saja. Hanya sedikit perempuan yang punya keinginan untuk menempuh S2 dan juga S3, dan tentu saja jumlah untuk dua jenjang pendidikan...