Langsung ke konten utama

Mengenal Struktural Keorganisasian Kampus

(Dokumen Pribadi)
Jika kamu adalah anak kuliah tentu pasti sudah tahu apa itu organisasi kampus. Mungkin ada sedikit perbedaan antara organisasi kampus dengan organisasi lainnya. Jelasnya organisasi kampus tentunya diisi oleh mahasiswa dan tentunya pola pikir keorganisasian dan tujaunnya berbeda dengan organisasi diluar kampus. Organisasi kampus sendiri terdiri dari dua macam, ada organisasi intra kampus kampus dan organisasi ekstra kampus. Organisasi kampus ini seberulnya hampir mirip dengan sistem kenegaraan kita seperti eksekutif, legislatif dan partai politik. Organisasi kampus ini, bisa disebut juga sebagai miniatur negara, untuk lebih jelasnya saya akan jelaskan dibawah ini: 

Organisasi Intra Kampus

Definisi organisasi intra kampus sendiri ada di dalam aturan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 155/U/1998 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi (PUOK). Secara singkatnya organisasi intra kampus ini berada di bawah naungan kampus.

Organisasi Intra Kampus ini terbagi menjadi beberapa bagian, yakni: 

1. BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa)/DEMA (Dewan Mahasiswa)

Fungsi dari keduanya sama seperti mentri dan presiden dimana tugasnya sebagai perangkat pelaksana. Tujuan dari BEM/DEMA sendiri adalah sebagai wadah organisasi mahasiswa baik tingkat institute/universitas maupun fakultas dimana anggota-anggotanya biasanya memiliki berbagai latar belakang jurusan yang lebih luas bisa tingkat fakultas sampai tinggkatan universitas. Tentunya program kerja yang mereka lakukan harus mencangkup aspirasi dari seluruh mahasiswa baik tingkat fakultas maupuntingkat univeuniversitas. Adapun perbedaan dari BEM dengan DEMA, yaitu BEM itu di kampus Umum sedangkan DEMA itu di kampus Islam sepeti UIN, IAIN atau STAIN.

2. DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa)/SEMA (Senat Mahasiswa)

Kalau tadi adalah eksekutif, nah yang ini adalah legislatifnya atau dalam negara kita adalah DPR, dimana kita sudah tahu bahwa tugas dari DPR sendiri dalah sebagai pembuat Undang-undang. DPM/SEMA juga hampir sama fungsinya seperti DPR hanya saja ini dalam ranah kampus dan diisi oleh para mahasiswa.

Selain membuat produk aturan, fungsi lain dari DPM/SEMA, yaitu sebagai pengawas dan penganggaran (mengawasi kinerja BEM/DEMA, HMJ, dan UKM), Advokasi (menjembatani suara mahasiswa baik itu keluhan, kritik, protes, masukan kepada pihak kampu), dan Aspirasi (penampung keingunan mahasiswa).

2. HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan)

HMJ ini fungsinya hampir sama dengan BEM/DEMA tetapi ranahnya jurusan, untuk keanggotaannya juga berasal dari jurusan yang sama, dan juga program kerjanya pun haruslah berhubungan dengan jurusannya.

3. UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)

Kalau di sekolah kita mengenal Ekskul sedangkan di kampus kita kenal UKM, Tujuan dari duanya sama, hanya saja di kampus biasanya lebih bervariasi tidak hanya sekedar bidang seni dan olah raga. UKM ini biasanya berada di luar struktural kampus dimana UKM ini di isi oleh mahasiswa yang memiliki hobi yang yang sama atau juga bagi para mahasiswa yang mencoba hobi baru. Tentunya UKM ini sangat berguna ketika kamu bosen belajar dikampus. 

Dengan adanya UKM ini semoga bisa buat kamu untuk menyalurkan hobi dan meningkatkan skill kamu. Jika beruntung biasanya orang yang punya bakat lebih bisa di ajak untuk lomba, syukur kalau menang lomba.

4. LSO (Lembaga Semi Otonom)

LSO ini biasanya berada dalam ranah fakultas. Anggota-anggotanya pun biasanya dari fakultas tersesbu. Biasanya setiap kampus berbeda-beda. LSO biasanya dibentuk oleh pihak fakultas tujuannya sebagai penunjang kualitas mahasiswa di tingkat fakultas atau bisa juga LSO ini dibentuk oleh mahasiswa yang ingin membentuk suatu forum di. tingkat fakultas lalu disetujui oleh pihak fakultas.

Organisasi Ekstra Kampus

Pada tahun 2002, usai beberapa tahun Indonesia bergejolak pada tahun 1998 karena terjadi reformasi, terbitlah peraturan yang menyebabkan pelarangan organisasi ekstra masuk kampus.  Peraturan tersebut merupakan Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 26/DIKTI/KEP/2002. Isinya berisi pelarangan organisasi ekstra kampus atau partai politik dalam kehidupan kampus.

Makanya kamu tidak akan melihat sekretariat organisasi ekstra ada di dalam kampus. Pasti biasanya berada di luar kampus. Inilah adalah salah satu yang membedakan organisasi ekstra kampus dengan organisasi intra kampus.

Adapun organisasi yang termasuk kedalam organisasi ekstra kampus, yaitu: Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Persatuan Mahasiswa iIslam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiya) dan Ikatan Mahasiswa Kristen (IMK)

Organisasi Daerah

Ada lagi tambahan yakni mengenai organisasi daerah. Organisasi ini biasanya dibentuk atas dasar adanya kesamaan dengan daerah tempat tinggalnya. Tentunya di kampus kamu akan merantau (buat yang jauh) dan bertemu dengan berbagai macam asal daerah, tak jarang ada juga yang satu daerah sehingga dibentuknya organisasi daerah untuk mempererat mahasiswa sedaerahnya. Buat kamu yang ada organisasi daerahnya berarti kamu beruntung.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Perlukah Seorang Perempuan Memiliki Pendidikan yang Tinggi

. Dilema Perempuan antara memilih mengurus Keluarga atau Melanjutkan Pendidikan Berbicara tentang perempuan dan pendidikan, tentunya ini menjadi dua hal yang menarik untuk dibicarakan. Sejak puluhan tahun yang lalu emansipasi wanita sering disebut-sebut oleh Kartini, sehingga kemudian hal ini menjadi sesuatu yang penting oleh sebagian kalangan. Namun, pada kenyataannya, dalam banyak hal wanita masih kerap ketinggalan, seolah memiliki sejumlah rintangan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik, salah satunya dalam bidang pendidikan. Ilustrasi (Pixabay.com) Meski sampai saat ini semua perempuan dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah seperti halnya pria, namun tidak sedikit juga perempuan yang enggan untuk melakukannya. Sebagian besar wanita merasa puas dengan pendidikan yang hanya menamatkan bangku SMA saja, bahkan ketika bisa menyelesaikan sarjana saja. Hanya sedikit perempuan yang punya keinginan untuk menempuh S2 dan juga S3, dan tentu saja jumlah untuk dua jenjang pendidikan...