Langsung ke konten utama

Dunia Perpolitikan Kampus

Ini adalah pengalaman saya di dunia kampus terutama dalam hal perpolitikanya mungkin saya tidak akan menyebutkan dimana kampus saya, tetapi perpolitikan di kampus saya dengan yang lainnya tentunya tidak akan berbeda jauh. ini sekedar info saja bagi mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi ekstra kampus alias mahasiswa abu-abu.

Dalam dunia kampus tentunya kamu mengenal apa itu organisasi ekstra kampus. Organisasi ekstra kampus ini tidak berada di bawah naungan kampus, tetapi berada diluar naungan kampus. Sebetulnya mengenai organisasi ekstra ini sudah dijelaskan di artikel sebelumnya.

(Pixabay.com)

Memang mengikuti organisasi ekstra ini sifatnya tidak wajib, tetapi organisasi ekstra kampus ini memiliki pengaruh yang besar didalam dunia perkuluahan. Sebagian besar dari organisasi intra kampus adalah orang-orang dmyang mengikuti ekstra. Oraganisasi ekstra ini lebuh banyak menguasai organisasi BEM dan HMJ sedangkan di bagaian UKM memang jarang yang mengusainya tetapi orang ekstra ada saja yang bermain di dalamnya.

Bagi kamu yang dari mahasiswa abu-abu, memang perpolitikan itubtidak terlalu kelihatan kamu tudak tahu mereka dari kuning, hijau, ataupun dari merah, tetapi mereka akan terlihat jelas ketika padasaat pemilihan calon ketua BEM atau HMJ.

Sebetulnya menjadi ketua BEM atau HMJ sah-sah saja dari golongan ekstra. Hany saja yang tidak disukai adalah adanya rasis, dimana kaum minoritas seperti mahasiswa abu-abu ataupun mahasiswa dari ekstra yang angotanya minim itu biasanya dikucilkan. Padahal semestinya ketika berkumoul dalam satu organisasi seharusnya tidak memandang dia dari kelompok mana, yang terpenting dia mau kerja sama dan punya skill.

Bahkan lebih dari parahnya lagi, jabatan-jabatan yang di atas itu harus mereka yang mayoritas dari golongan ekstra yang menang. Sedangkan yang dari golongan yang minim tidak bisa menjabat ke jabatan yang lebuh tinggi, walaupun orangnya rajin, sholeh, skilnya mempuni itu tidak jadi prioritas.

Makanya jika kamu adalah masasiswa abu-abu jangan berharap besar untuk mendapat jabatan tinggi di organisasi ekstra kampus. Jika maupun, mau tidak mau kamu harus ikut ekstra dan inipun tidak selesai begitu saja.

ketika kamu sudah menjabat di salah satu organisasi intra apalagi sebagai ketua, tentunya kamu tidak bisa seenaknya berkuasa. Kamu walaupun jadi ketua BEM Universitat sekalipun kamu harus nurut ke organisasi ekstra. Boleh saja sebetulnya kamu misalnya tidak mengikuti apa kata mereka, hanya saja siap-siap kamu akan dikucilkan oleh mereka walaupun sebetulnya kamu satu golongan. Tetapi ini menjadi satu pilihan memang, jika kamu adalah sesosok pemimpin yang memang ingin menegakkan keadilan, tidak memandang dia dari golongan mana ya silahkan asalkan kamu punya power yang kuat selain dari golongan ekstra dan jug siap-siap dikucilkan oleh golongan sendiri, memang hal ini sudah menjadi resiko. Tetapi kalau misalnya kamu memimpin karena jabatan ya sudah nurut saja apa mau mereka.

Ketikan misalnya sudah ketua, sebetulnya kursi jabatan sudah di plot-plot kan. Tentunya dari golongan yang menang yang bakal dapat jabatan tinggi. Memang semuanya sudah di seting sedemikian rupa, baik dari siapa yang jadi ketua, anggota bahkan program kerja.

Berbicara program kerja, padahal program kerja itu seharusnya untuk meningkatkan mutu mahasiswa. Tetapi dilain sisi ternyata memang dalam pelaksanaan program kerja jarang yang menyentuh ke mahasiswa. Hal ini karena  memang program kerja itu terbilang ngasal dan hanya pengen pencairan dananya saja, yang penting ada kerjaan terus dilaporkan, dan ini tidak sedikit mahasiswa yang menyelewengkan dana tersebut. Lalu dana itu pergi kemana? Tentunya masuk ke kantong-kantong oraganisasi ekstra bukan ke mahasiswa pada umumnya.

Saya tegaskan silahkan mau siapapun itu yang menang, seharusnya dia bisa mengemban amanahnya menjadi seorang ketua untuk menjaga amanahnya untuk memajukan organisasinya bukan untuk golongannya sendiri. Seharusnya organisasi ekstra ini menjadi pendoro dalam memajukan organisasi intra, bukannya malah merusak seperti membuat program kerja asal, pengelapan dana, manupilasi jabata bahkan manipulasi suara. Hal ini tentunya sudah saya alami.

Bahkan saya pernah dulu di tunjuk sebagai ketua SEMA (Senat Mahasiswa) di kampus saya dengan alasan tidak ada calon lagi, jika tidak maka golongan ekstra lain yang akan merebut. Ya sudah saya terpaksa untuk mengikuti kemauan mereka. Ketika pada saat pemilihan musyawarah memang saya lah yang terpilih. Sebetulny saya tidak senang-senang amat soalnya sudah di seting dari belakang.

Bingung rasanya ketika hal itu terjadi, padahal awalnya bukan saya yang harusnya terpilih. Tetapi karena teman saya tidak hadir makany saya yang terpilih. Tetapi beberapa hari kemudian saya mengundurkan diri dengan beberapa alasan ini dan itu. Dari pihak ekstrapun jug menyetujui ketika saya mengundurkan diri jadi ketua asalkan masih menjabat. Lalu kemudian saya coba memaksa teman say untuk berangkat ke kampus walaupun dia sedang pulang kampung dan akhirnya kita melakukan pemilihan barus dan akhirnya teman saya yang terpilih.

 Jujur yah saya mengapa tidak ingin menjadi ketua, karena percuma jika jadi pun harus nurut sama ekstra dan saya bukan tipe yang nurut tetapi di sisi lain saya tidak punya power untuk melawan. saya juga takut nanti bagai mana tanggung jawab saya di akhirat nanti, apakah saya benar-benar bisa mengemban amanah atau tidak. 



x

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Perlukah Seorang Perempuan Memiliki Pendidikan yang Tinggi

. Dilema Perempuan antara memilih mengurus Keluarga atau Melanjutkan Pendidikan Berbicara tentang perempuan dan pendidikan, tentunya ini menjadi dua hal yang menarik untuk dibicarakan. Sejak puluhan tahun yang lalu emansipasi wanita sering disebut-sebut oleh Kartini, sehingga kemudian hal ini menjadi sesuatu yang penting oleh sebagian kalangan. Namun, pada kenyataannya, dalam banyak hal wanita masih kerap ketinggalan, seolah memiliki sejumlah rintangan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik, salah satunya dalam bidang pendidikan. Ilustrasi (Pixabay.com) Meski sampai saat ini semua perempuan dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah seperti halnya pria, namun tidak sedikit juga perempuan yang enggan untuk melakukannya. Sebagian besar wanita merasa puas dengan pendidikan yang hanya menamatkan bangku SMA saja, bahkan ketika bisa menyelesaikan sarjana saja. Hanya sedikit perempuan yang punya keinginan untuk menempuh S2 dan juga S3, dan tentu saja jumlah untuk dua jenjang pendidikan...