Langsung ke konten utama

Postingan

Nyaman Tak Selamanya Aman

Sebuah kenyamanan hari ini diperlakukan seperti oase di tengah gurun sosial. Semua orang haus. Semua orang lelah. Semua orang ingin dipeluk—atau setidaknya divalidasi. Maka ketika seorang yang kesepian, yang sejak kecil merasa seperti kursi cadangan dalam keluarga sendiri, tiba-tiba didatangi sosok “pahlawan”, rasanya seperti menemukan Wi-Fi gratis di tengah hutan. Sinyalnya kuat. Password-nya: perhatian. Ironisnya, yang paling cepat memberi rasa aman sering kali bukan yang paling sehat, tapi yang paling lihai membaca celah. Ia datang membawa empati instan, dukungan tanpa diminta, arah hidup yang terdengar mantap. Seolah-olah ia punya kompas moral bawaan lahir. Padahal bisa saja ia sendiri sedang tersesat—hanya lebih percaya diri dalam menunjuk jalan. Dari situ lahirlah hubungan yang “nyaman”. Nyaman karena ada yang mendengar. Nyaman karena ada yang selalu ada. Nyaman karena akhirnya ada yang memilih kita. Kenyamanan ini pelan-pelan berubah menjadi ketergantungan. Ketergantungan beru...
Postingan terbaru

Apa Benar Kita Hidup Bebas

Kita hidup di zaman yang katanya paling bebas dalam sejarah manusia. Bebas memilih tontonan di Netflix, bebas memesan makan lewat GoFood, bebas memamerkan kebebasan itu di Instagram. Luar biasa. Leluhur kita mungkin hanya bisa memilih antara lapar atau lebih lapar, sedangkan kita bisa memilih antara ayam geprek level 3 atau level 10. Inilah puncak peradaban, bukan? Dulu orang bersyukur bisa makan daging setahun sekali. Sekarang kita bisa makan apa saja, kapan saja, selama saldo masih ada. Dulu hiburan adalah cerita dari tetangga atau radio berderak. Sekarang film terbaru rilis global bisa ditonton di kamar, sendirian, dengan cahaya biru yang perlahan menggerogoti tidur. Dan kita menyebutnya kemajuan. Kita menyebutnya kebebasan. Namun kebebasan macam apa yang membuat tangan kita refleks mencari ponsel setiap lima menit? Kebebasan macam apa yang membuat notifikasi terasa seperti panggilan suci yang tak boleh diabaikan? Kita bilang kita bebas memilih, padahal algoritma sudah lebih dulu ...

Beragama Namun Tak Bertuhan

Ada satu spesies manusia yang menarik untuk diamati, nyaris seperti fosil hidup yang terus bereproduksi di setiap zaman: ahli agama yang rajin beragama, fasih mengutip ayat, lihai berkhutbah, tetapi entah di mana Tuhan mereka bersembunyi. Mungkin Tuhan sedang cuti panjang, atau mungkin memang tidak pernah benar-benar diundang masuk. Yang jelas, yang tinggal hanyalah jubah, simbol, dan suara lantang yang menuntut ditaati. Manusia semacam ini tidak kekurangan ritual. Mereka hafal jadwal ibadah, tahu kapan harus marah dan kepada siapa, serta paham betul bagaimana mengatur ekspresi wajah agar tampak suci di depan kamera. Namun, di balik semua itu, agama telah direduksi menjadi sekadar kedok administratif. Tuhan bukan lagi pusat moral, melainkan stempel legitimasi. Jika Tuhan bisa berbicara, barangkali Ia akan protes karena namanya terlalu sering dipakai tanpa izin. Agama, di tangan mereka, berubah fungsi. Ia tidak lagi menjadi jalan sunyi menuju kesadaran etis, melainkan palu godam untuk...

Kebohongan di Awal Tahun Baru

Tahun baru selalu datang dengan dentuman kembang api dan kalimat klise yang dipoles seperti janji kampanye: “tahun ini harus lebih baik.” Kalimat itu diucapkan dengan wajah penuh harap, padahal di belakangnya ada jejak panjang kegagalan yang sengaja dilupakan. Resolusi awal tahun terdengar manis, tetapi jika dicium lebih dekat, baunya seperti nasi basi yang dipanaskan ulang—masih bisa ditelan, tapi rasanya getir dan memuakkan. Kita pura-pura percaya bahwa pergantian angka di kalender memiliki kekuatan magis. Seolah-olah pada detik tertentu, ketika jarum jam bertabrakan di angka dua belas, dunia menekan tombol reset . Padahal yang di-reset hanya notifikasi ponsel dan sisa saldo rekening. Sistem tetap sama, wajah-wajah di kursi kekuasaan tetap itu-itu saja, dan kebobrokan tetap berdiri tegak seperti monumen nasional yang tak pernah diresmikan tetapi terus diperluas. Pemerintahan yang katanya “berproses menuju perbaikan” justru seperti bangunan tua yang diplester ulang tanpa memperbaik...

Deforestasi Lebih Menyeramkan Dari Hutan Angker

  Hutan angker. Kata-kata itu mungkin langsung memunculkan gambaran kabut tebal, pohon-pohon menjulang dengan akar-akar yang mencuat dari tanah, dan desas-desus suara misterius di malam hari. Dalam cerita rakyat, hutan sering kali menjadi tempat yang menakutkan, penuh dengan makhluk gaib yang siap mencelakai siapa pun yang berani masuk. Namun, setelah melihat apa yang terjadi di dunia nyata, aku sadar bahwa "hantu" itu bukanlah yang paling menakutkan di hutan. Yang lebih menyeramkan adalah manusia dan keserakahannya. Deforestasi, itulah nama mimpi buruk yang sebenarnya. Tidak ada yang lebih mengerikan daripada menyaksikan pohon-pohon yang telah berdiri selama ratusan tahun tumbang hanya dalam hitungan menit. Bukan oleh badai, bukan oleh kekuatan alam, tetapi oleh mesin-mesin besar yang dioperasikan oleh manusia. Pohon-pohon yang dulu menjadi rumah bagi burung, monyet, dan harimau kini hanya menjadi tumpukan kayu. Tanah yang dulunya subur dan penuh kehidupan berubah menjadi la...

Demokrasi Boneka

Hari ini kita hidup di era di mana sebuah quote sederhana bisa menjadi hukum tak tertulis yang lebih sakral daripada peraturan resmi. "Jadilah perubahan yang ingin kamu lihat di dunia," katanya. Inspiratif, bukan? Tapi coba renungkan: perubahan apa yang mereka maksud? Apakah itu tentang menambal jalan berlubang di depan rumah, atau justru menutup lubang pemikiran kita agar terus tunduk pada status quo? Pemerintah dan para tokoh berpengaruh gemar menyajikan kata-kata manis, lengkap dengan latar musik orkestra di video kampanye mereka. Kata-kata itu menyelinap ke dalam kepala kita, menjadi mantra sehari-hari yang kita ulang-ulang. Tidak peduli seberapa absurd atau tidak relevannya, begitu diucapkan oleh seorang pejabat, motivator, atau bahkan selebgram, mendadak itu berubah menjadi undang-undang sosial. “Hidup hemat adalah kunci,” ujar salah satu menteri sambil menikmati brunch di hotel bintang lima. Tentu, hemat itu penting—untuk kita, bukan untuk mereka. Dalam realitas yang...

Pegawai Negeri Pendongeng

Pegawai negeri. Sosok yang sering digadang-gadang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, namun diam-diam dianggap sebagai tiket emas menuju kehidupan yang nyaman. Mari kita jujur, siapa sih yang tidak tergoda dengan janji-janji manis: gaji tetap, tunjangan kinerja, uang pensiunan yang mengalir hingga hari tua, bahkan tunjangan untuk istri dan anak? Belum lagi tambahan kecil-kecil seperti seragam rapi, rapat dengan nasi kotak, atau mungkin—jika sedang beruntung—bonus perjalanan dinas ke kota besar. Namun, jangan salah paham. Menjadi pegawai negeri bukan hanya tentang mengabdi kepada negara. Tidak, kawan. Itu hanyalah narasi dongeng yang sering kita dengar sejak kecil. Sebuah dongeng yang mengatakan bahwa pegawai negeri adalah pekerjaan yang mulia, penuh pengabdian, dan dihormati oleh seluruh rakyat. Nyatanya? Sepertinya tidak sesederhana itu. Coba kita lihat lebih dekat. Berapa banyak dari mereka yang benar-benar mendaftar karena ingin mengabdi kepada negara? Jangan bohong. Yang terlintas...