Langsung ke konten utama

Postingan

Bisakah Amerika Tumbang

Dalam panggung politik dunia, ada satu negara yang sering tampil seperti sutradara sekaligus aktor utama: Amerika Serikat. Ia berbicara tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan dengan suara lantang—seolah-olah dunia ini sebuah seminar besar tentang moralitas yang dipimpin olehnya. Namun, seperti banyak drama besar dalam sejarah, realitas sering kali lebih rumit daripada slogan yang terdengar indah di podium internasional. Salah satu panggung utama tempat kekuasaan itu terlihat adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di dalam Dewan Keamanan PBB, Amerika Serikat memiliki hak veto—sebuah tombol “tidak setuju” yang bisa menghentikan keputusan global. Bersama beberapa negara besar lain, tombol ini memberi kemampuan luar biasa untuk membentuk arah kebijakan internasional. Secara teori, hak veto dibuat untuk menjaga keseimbangan kekuatan dunia setelah Perang Dunia II. Dalam praktiknya, kadang terasa seperti mikrofon yang hanya bisa dimatikan oleh segelintir orang di ruangan yang sangat...
Postingan terbaru

Berharap Generasi Boomer Itu Cepat Punah

Ketika generasi yang sering dijuluki “boomer” itu akhirnya pensiun permanen dari panggung sejarah secara biologis maupun struktural dunia tidak langsung kiamat, tidak juga langsung utopia. Tidak ada sirene kosmik berbunyi, tidak ada patch update otomatis dari semesta yang berbunyi: “Selamat, sistem sosial berhasil diperbarui ke versi Milenial 3.0 dan Gen Z 1.5.” Dunia tetap berputar, tagihan tetap datang, dan algoritma tetap lebih tahu isi hati kita daripada kita sendiri. Selama ini narasinya sederhana dan agak malas berpikir: boomer = kolot, milenial dan gen z = progresif. Seolah-olah sejarah adalah pertandingan sepak bola dan generasi hanyalah dua klub yang saling ejek di kolom komentar. Padahal realitas sosial lebih mirip ekosistem. Tidak ada generasi yang lahir dari ruang hampa. Milenial dan Gen Z dibesarkan oleh siapa? Ya oleh generasi yang sekarang sering mereka sindir. Ironi kecil yang lucu. Bayangkan skenario ketika kursi-kursi kekuasaan, ruang-ruang rapat, dan meja kebijaka...

Nyaman Tak Selamanya Aman

Sebuah kenyamanan hari ini diperlakukan seperti oase di tengah gurun sosial. Semua orang haus. Semua orang lelah. Semua orang ingin dipeluk—atau setidaknya divalidasi. Maka ketika seorang yang kesepian, yang sejak kecil merasa seperti kursi cadangan dalam keluarga sendiri, tiba-tiba didatangi sosok “pahlawan”, rasanya seperti menemukan Wi-Fi gratis di tengah hutan. Sinyalnya kuat. Password-nya: perhatian. Ironisnya, yang paling cepat memberi rasa aman sering kali bukan yang paling sehat, tapi yang paling lihai membaca celah. Ia datang membawa empati instan, dukungan tanpa diminta, arah hidup yang terdengar mantap. Seolah-olah ia punya kompas moral bawaan lahir. Padahal bisa saja ia sendiri sedang tersesat—hanya lebih percaya diri dalam menunjuk jalan. Dari situ lahirlah hubungan yang “nyaman”. Nyaman karena ada yang mendengar. Nyaman karena ada yang selalu ada. Nyaman karena akhirnya ada yang memilih kita. Kenyamanan ini pelan-pelan berubah menjadi ketergantungan. Ketergantungan beru...

Apa Benar Kita Hidup Bebas

Kita hidup di zaman yang katanya paling bebas dalam sejarah manusia. Bebas memilih tontonan di Netflix, bebas memesan makan lewat GoFood, bebas memamerkan kebebasan itu di Instagram. Luar biasa. Leluhur kita mungkin hanya bisa memilih antara lapar atau lebih lapar, sedangkan kita bisa memilih antara ayam geprek level 3 atau level 10. Inilah puncak peradaban, bukan? Dulu orang bersyukur bisa makan daging setahun sekali. Sekarang kita bisa makan apa saja, kapan saja, selama saldo masih ada. Dulu hiburan adalah cerita dari tetangga atau radio berderak. Sekarang film terbaru rilis global bisa ditonton di kamar, sendirian, dengan cahaya biru yang perlahan menggerogoti tidur. Dan kita menyebutnya kemajuan. Kita menyebutnya kebebasan. Namun kebebasan macam apa yang membuat tangan kita refleks mencari ponsel setiap lima menit? Kebebasan macam apa yang membuat notifikasi terasa seperti panggilan suci yang tak boleh diabaikan? Kita bilang kita bebas memilih, padahal algoritma sudah lebih dulu ...

Beragama Namun Tak Bertuhan

Ada satu spesies manusia yang menarik untuk diamati, nyaris seperti fosil hidup yang terus bereproduksi di setiap zaman: ahli agama yang rajin beragama, fasih mengutip ayat, lihai berkhutbah, tetapi entah di mana Tuhan mereka bersembunyi. Mungkin Tuhan sedang cuti panjang, atau mungkin memang tidak pernah benar-benar diundang masuk. Yang jelas, yang tinggal hanyalah jubah, simbol, dan suara lantang yang menuntut ditaati. Manusia semacam ini tidak kekurangan ritual. Mereka hafal jadwal ibadah, tahu kapan harus marah dan kepada siapa, serta paham betul bagaimana mengatur ekspresi wajah agar tampak suci di depan kamera. Namun, di balik semua itu, agama telah direduksi menjadi sekadar kedok administratif. Tuhan bukan lagi pusat moral, melainkan stempel legitimasi. Jika Tuhan bisa berbicara, barangkali Ia akan protes karena namanya terlalu sering dipakai tanpa izin. Agama, di tangan mereka, berubah fungsi. Ia tidak lagi menjadi jalan sunyi menuju kesadaran etis, melainkan palu godam untuk...

Kebohongan di Awal Tahun Baru

Tahun baru selalu datang dengan dentuman kembang api dan kalimat klise yang dipoles seperti janji kampanye: “tahun ini harus lebih baik.” Kalimat itu diucapkan dengan wajah penuh harap, padahal di belakangnya ada jejak panjang kegagalan yang sengaja dilupakan. Resolusi awal tahun terdengar manis, tetapi jika dicium lebih dekat, baunya seperti nasi basi yang dipanaskan ulang—masih bisa ditelan, tapi rasanya getir dan memuakkan. Kita pura-pura percaya bahwa pergantian angka di kalender memiliki kekuatan magis. Seolah-olah pada detik tertentu, ketika jarum jam bertabrakan di angka dua belas, dunia menekan tombol reset . Padahal yang di-reset hanya notifikasi ponsel dan sisa saldo rekening. Sistem tetap sama, wajah-wajah di kursi kekuasaan tetap itu-itu saja, dan kebobrokan tetap berdiri tegak seperti monumen nasional yang tak pernah diresmikan tetapi terus diperluas. Pemerintahan yang katanya “berproses menuju perbaikan” justru seperti bangunan tua yang diplester ulang tanpa memperbaik...

Deforestasi Lebih Menyeramkan Dari Hutan Angker

  Hutan angker. Kata-kata itu mungkin langsung memunculkan gambaran kabut tebal, pohon-pohon menjulang dengan akar-akar yang mencuat dari tanah, dan desas-desus suara misterius di malam hari. Dalam cerita rakyat, hutan sering kali menjadi tempat yang menakutkan, penuh dengan makhluk gaib yang siap mencelakai siapa pun yang berani masuk. Namun, setelah melihat apa yang terjadi di dunia nyata, aku sadar bahwa "hantu" itu bukanlah yang paling menakutkan di hutan. Yang lebih menyeramkan adalah manusia dan keserakahannya. Deforestasi, itulah nama mimpi buruk yang sebenarnya. Tidak ada yang lebih mengerikan daripada menyaksikan pohon-pohon yang telah berdiri selama ratusan tahun tumbang hanya dalam hitungan menit. Bukan oleh badai, bukan oleh kekuatan alam, tetapi oleh mesin-mesin besar yang dioperasikan oleh manusia. Pohon-pohon yang dulu menjadi rumah bagi burung, monyet, dan harimau kini hanya menjadi tumpukan kayu. Tanah yang dulunya subur dan penuh kehidupan berubah menjadi la...