Langsung ke konten utama

Postingan

Beragama Namun Tak Bertuhan

Ada satu spesies manusia yang menarik untuk diamati, nyaris seperti fosil hidup yang terus bereproduksi di setiap zaman: ahli agama yang rajin beragama, fasih mengutip ayat, lihai berkhutbah, tetapi entah di mana Tuhan mereka bersembunyi. Mungkin Tuhan sedang cuti panjang, atau mungkin memang tidak pernah benar-benar diundang masuk. Yang jelas, yang tinggal hanyalah jubah, simbol, dan suara lantang yang menuntut ditaati. Manusia semacam ini tidak kekurangan ritual. Mereka hafal jadwal ibadah, tahu kapan harus marah dan kepada siapa, serta paham betul bagaimana mengatur ekspresi wajah agar tampak suci di depan kamera. Namun, di balik semua itu, agama telah direduksi menjadi sekadar kedok administratif. Tuhan bukan lagi pusat moral, melainkan stempel legitimasi. Jika Tuhan bisa berbicara, barangkali Ia akan protes karena namanya terlalu sering dipakai tanpa izin. Agama, di tangan mereka, berubah fungsi. Ia tidak lagi menjadi jalan sunyi menuju kesadaran etis, melainkan palu godam untuk...
Postingan terbaru

Kebohongan di Awal Tahun Baru

Tahun baru selalu datang dengan dentuman kembang api dan kalimat klise yang dipoles seperti janji kampanye: “tahun ini harus lebih baik.” Kalimat itu diucapkan dengan wajah penuh harap, padahal di belakangnya ada jejak panjang kegagalan yang sengaja dilupakan. Resolusi awal tahun terdengar manis, tetapi jika dicium lebih dekat, baunya seperti nasi basi yang dipanaskan ulang—masih bisa ditelan, tapi rasanya getir dan memuakkan. Kita pura-pura percaya bahwa pergantian angka di kalender memiliki kekuatan magis. Seolah-olah pada detik tertentu, ketika jarum jam bertabrakan di angka dua belas, dunia menekan tombol reset . Padahal yang di-reset hanya notifikasi ponsel dan sisa saldo rekening. Sistem tetap sama, wajah-wajah di kursi kekuasaan tetap itu-itu saja, dan kebobrokan tetap berdiri tegak seperti monumen nasional yang tak pernah diresmikan tetapi terus diperluas. Pemerintahan yang katanya “berproses menuju perbaikan” justru seperti bangunan tua yang diplester ulang tanpa memperbaik...

Deforestasi Lebih Menyeramkan Dari Hutan Angker

  Hutan angker. Kata-kata itu mungkin langsung memunculkan gambaran kabut tebal, pohon-pohon menjulang dengan akar-akar yang mencuat dari tanah, dan desas-desus suara misterius di malam hari. Dalam cerita rakyat, hutan sering kali menjadi tempat yang menakutkan, penuh dengan makhluk gaib yang siap mencelakai siapa pun yang berani masuk. Namun, setelah melihat apa yang terjadi di dunia nyata, aku sadar bahwa "hantu" itu bukanlah yang paling menakutkan di hutan. Yang lebih menyeramkan adalah manusia dan keserakahannya. Deforestasi, itulah nama mimpi buruk yang sebenarnya. Tidak ada yang lebih mengerikan daripada menyaksikan pohon-pohon yang telah berdiri selama ratusan tahun tumbang hanya dalam hitungan menit. Bukan oleh badai, bukan oleh kekuatan alam, tetapi oleh mesin-mesin besar yang dioperasikan oleh manusia. Pohon-pohon yang dulu menjadi rumah bagi burung, monyet, dan harimau kini hanya menjadi tumpukan kayu. Tanah yang dulunya subur dan penuh kehidupan berubah menjadi la...

Demokrasi Boneka

Hari ini kita hidup di era di mana sebuah quote sederhana bisa menjadi hukum tak tertulis yang lebih sakral daripada peraturan resmi. "Jadilah perubahan yang ingin kamu lihat di dunia," katanya. Inspiratif, bukan? Tapi coba renungkan: perubahan apa yang mereka maksud? Apakah itu tentang menambal jalan berlubang di depan rumah, atau justru menutup lubang pemikiran kita agar terus tunduk pada status quo? Pemerintah dan para tokoh berpengaruh gemar menyajikan kata-kata manis, lengkap dengan latar musik orkestra di video kampanye mereka. Kata-kata itu menyelinap ke dalam kepala kita, menjadi mantra sehari-hari yang kita ulang-ulang. Tidak peduli seberapa absurd atau tidak relevannya, begitu diucapkan oleh seorang pejabat, motivator, atau bahkan selebgram, mendadak itu berubah menjadi undang-undang sosial. “Hidup hemat adalah kunci,” ujar salah satu menteri sambil menikmati brunch di hotel bintang lima. Tentu, hemat itu penting—untuk kita, bukan untuk mereka. Dalam realitas yang...

Pegawai Negeri Pendongeng

Pegawai negeri. Sosok yang sering digadang-gadang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, namun diam-diam dianggap sebagai tiket emas menuju kehidupan yang nyaman. Mari kita jujur, siapa sih yang tidak tergoda dengan janji-janji manis: gaji tetap, tunjangan kinerja, uang pensiunan yang mengalir hingga hari tua, bahkan tunjangan untuk istri dan anak? Belum lagi tambahan kecil-kecil seperti seragam rapi, rapat dengan nasi kotak, atau mungkin—jika sedang beruntung—bonus perjalanan dinas ke kota besar. Namun, jangan salah paham. Menjadi pegawai negeri bukan hanya tentang mengabdi kepada negara. Tidak, kawan. Itu hanyalah narasi dongeng yang sering kita dengar sejak kecil. Sebuah dongeng yang mengatakan bahwa pegawai negeri adalah pekerjaan yang mulia, penuh pengabdian, dan dihormati oleh seluruh rakyat. Nyatanya? Sepertinya tidak sesederhana itu. Coba kita lihat lebih dekat. Berapa banyak dari mereka yang benar-benar mendaftar karena ingin mengabdi kepada negara? Jangan bohong. Yang terlintas...

Dibalik Topeng Merakyat

Istilah merakyat itu seperti parfum murah yang disemprotkan untuk menutupi bau busuk. Bukan benar-benar membuat wangi, hanya membuat kita pusing karena terlalu menyengat. Katanya, merakyat itu mulia, menunjukkan seorang pejabat atau figur publik benar-benar peduli pada rakyat jelata. Tapi mari kita jujur saja: istilah ini menjijikkan. Merakyat , seolah-olah mereka adalah makhluk dari dimensi lain yang turun ke bumi untuk menyentuh kehidupan kita yang penuh debu dan peluh. Padahal, bukankah kita semua sama-sama manusia? Kalau benar mereka peduli, mengapa harus ada istilah merakyat ? Bukankah itu hanya menunjukkan bahwa mereka, para pejabat yang katanya merakyat itu, sebenarnya merasa lebih tinggi dari rakyatnya? Ini bukan lagi soal niat baik, ini soal pencitraan yang basi. Ambil contoh klasik: seorang pejabat turun ke pasar. Dengan wajah ramah yang dipaksakan, ia menanyakan harga bawang dan cabai kepada pedagang. "Berapa harga bawang hari ini, Bu?" tanyanya dengan nada penu...

Republik Pengkhianat: Di Mana Kejujuran adalah Mitos dan Pengkhianatan adalah Investasi

Di sebuah negeri yang konon dijuluki "Surga Pengkhianat", uang mengalir bak sungai limbah pabrik keruh, beracun, tapi selalu dianggap berkah oleh para penjaga gerbang kekuasaan. Di sini, para pemimpin berjalan dengan kantong kebohongan di pinggang dan senyum palsu yang telah disertifikasi oleh akademi korupsi. Mereka piawai mengubah anggaran negara menjadi tiket pesawat ke Bali, proyek fiktif untuk membangun istana di awan, atau sekadar pesta pora di lobi hotel berbintang yang dianggap sebagai "rapat penting nasional". Hasilnya? Sebuah museum kebanggaan bernama "Kegagalan Total", tapi tiket masuknya dibayar oleh rakyat yang terus bertanya: "Kapan kami bisa makan janji-janji itu?" Usaha di negeri ini ibarat bermain judi dengan dadu berbobot. Jika kau jujur, kau akan dianggap naif, layaknya anak kecil yang membawa pisau tumpul ke medan perang. Tapi jika kau pengkhianat, kau dielu-elukan sebagai pahlawan modern. Lihatlah para mantan koruptor yang ki...