Ada satu spesies manusia yang menarik untuk diamati, nyaris seperti fosil hidup yang terus bereproduksi di setiap zaman: ahli agama yang rajin beragama, fasih mengutip ayat, lihai berkhutbah, tetapi entah di mana Tuhan mereka bersembunyi. Mungkin Tuhan sedang cuti panjang, atau mungkin memang tidak pernah benar-benar diundang masuk. Yang jelas, yang tinggal hanyalah jubah, simbol, dan suara lantang yang menuntut ditaati. Manusia semacam ini tidak kekurangan ritual. Mereka hafal jadwal ibadah, tahu kapan harus marah dan kepada siapa, serta paham betul bagaimana mengatur ekspresi wajah agar tampak suci di depan kamera. Namun, di balik semua itu, agama telah direduksi menjadi sekadar kedok administratif. Tuhan bukan lagi pusat moral, melainkan stempel legitimasi. Jika Tuhan bisa berbicara, barangkali Ia akan protes karena namanya terlalu sering dipakai tanpa izin. Agama, di tangan mereka, berubah fungsi. Ia tidak lagi menjadi jalan sunyi menuju kesadaran etis, melainkan palu godam untuk...
Tahun baru selalu datang dengan dentuman kembang api dan kalimat klise yang dipoles seperti janji kampanye: “tahun ini harus lebih baik.” Kalimat itu diucapkan dengan wajah penuh harap, padahal di belakangnya ada jejak panjang kegagalan yang sengaja dilupakan. Resolusi awal tahun terdengar manis, tetapi jika dicium lebih dekat, baunya seperti nasi basi yang dipanaskan ulang—masih bisa ditelan, tapi rasanya getir dan memuakkan. Kita pura-pura percaya bahwa pergantian angka di kalender memiliki kekuatan magis. Seolah-olah pada detik tertentu, ketika jarum jam bertabrakan di angka dua belas, dunia menekan tombol reset . Padahal yang di-reset hanya notifikasi ponsel dan sisa saldo rekening. Sistem tetap sama, wajah-wajah di kursi kekuasaan tetap itu-itu saja, dan kebobrokan tetap berdiri tegak seperti monumen nasional yang tak pernah diresmikan tetapi terus diperluas. Pemerintahan yang katanya “berproses menuju perbaikan” justru seperti bangunan tua yang diplester ulang tanpa memperbaik...