Dalam panggung politik dunia, ada satu negara yang sering tampil seperti sutradara sekaligus aktor utama: Amerika Serikat. Ia berbicara tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan dengan suara lantang—seolah-olah dunia ini sebuah seminar besar tentang moralitas yang dipimpin olehnya. Namun, seperti banyak drama besar dalam sejarah, realitas sering kali lebih rumit daripada slogan yang terdengar indah di podium internasional. Salah satu panggung utama tempat kekuasaan itu terlihat adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di dalam Dewan Keamanan PBB, Amerika Serikat memiliki hak veto—sebuah tombol “tidak setuju” yang bisa menghentikan keputusan global. Bersama beberapa negara besar lain, tombol ini memberi kemampuan luar biasa untuk membentuk arah kebijakan internasional. Secara teori, hak veto dibuat untuk menjaga keseimbangan kekuatan dunia setelah Perang Dunia II. Dalam praktiknya, kadang terasa seperti mikrofon yang hanya bisa dimatikan oleh segelintir orang di ruangan yang sangat...
Ketika generasi yang sering dijuluki “boomer” itu akhirnya pensiun permanen dari panggung sejarah secara biologis maupun struktural dunia tidak langsung kiamat, tidak juga langsung utopia. Tidak ada sirene kosmik berbunyi, tidak ada patch update otomatis dari semesta yang berbunyi: “Selamat, sistem sosial berhasil diperbarui ke versi Milenial 3.0 dan Gen Z 1.5.” Dunia tetap berputar, tagihan tetap datang, dan algoritma tetap lebih tahu isi hati kita daripada kita sendiri. Selama ini narasinya sederhana dan agak malas berpikir: boomer = kolot, milenial dan gen z = progresif. Seolah-olah sejarah adalah pertandingan sepak bola dan generasi hanyalah dua klub yang saling ejek di kolom komentar. Padahal realitas sosial lebih mirip ekosistem. Tidak ada generasi yang lahir dari ruang hampa. Milenial dan Gen Z dibesarkan oleh siapa? Ya oleh generasi yang sekarang sering mereka sindir. Ironi kecil yang lucu. Bayangkan skenario ketika kursi-kursi kekuasaan, ruang-ruang rapat, dan meja kebijaka...