Langsung ke konten utama

Apa Benar Kita Hidup Bebas

Kita hidup di zaman yang katanya paling bebas dalam sejarah manusia. Bebas memilih tontonan di Netflix, bebas memesan makan lewat GoFood, bebas memamerkan kebebasan itu di Instagram. Luar biasa. Leluhur kita mungkin hanya bisa memilih antara lapar atau lebih lapar, sedangkan kita bisa memilih antara ayam geprek level 3 atau level 10. Inilah puncak peradaban, bukan?

Dulu orang bersyukur bisa makan daging setahun sekali. Sekarang kita bisa makan apa saja, kapan saja, selama saldo masih ada. Dulu hiburan adalah cerita dari tetangga atau radio berderak. Sekarang film terbaru rilis global bisa ditonton di kamar, sendirian, dengan cahaya biru yang perlahan menggerogoti tidur. Dan kita menyebutnya kemajuan. Kita menyebutnya kebebasan.

Namun kebebasan macam apa yang membuat tangan kita refleks mencari ponsel setiap lima menit? Kebebasan macam apa yang membuat notifikasi terasa seperti panggilan suci yang tak boleh diabaikan? Kita bilang kita bebas memilih, padahal algoritma sudah lebih dulu memilihkan. Ia tahu apa yang membuat kita berhenti menggulir, apa yang membuat kita marah, apa yang membuat kita merasa kurang. Ia tahu karena kita sendiri yang memberinya data, dengan penuh cinta.

Teknologi memang memperluas pilihan. Tapi pilihan yang terlalu banyak sering kali bukan memperluas jiwa, melainkan membuatnya beku. Psikolog menyebutnya “paradox of choice” — paradoks pilihan. Ketika opsi terlalu banyak, keputusan justru melelahkan. Kita jadi ragu, cemas, takut salah. Kreativitas? Ia tenggelam di antara template, tren, dan suara pasar. Kita tidak lagi bertanya, “Apa yang ingin aku ciptakan?” Kita bertanya, “Apa yang sedang viral?”

Kita mengira bebas karena bisa menjadi apa saja. Influencer, trader, konten kreator, podcaster. Semua profesi terdengar glamor di layar. Tetapi ketika semua orang mengejar arus yang sama, siapa yang benar-benar memilih? Jika setiap keputusan kita dibentuk oleh metrik—like, views, engagement—apakah itu kebebasan atau hanya bentuk baru dari pengawasan yang kita nikmati?

Informasi membanjir tanpa ampun. Setiap hari kita disuguhi opini, analisis, teori konspirasi, motivasi instan, dan tips sukses 30 detik. Otak kita bekerja keras menyaring, tapi hati tetap bingung menentukan arah. Kita tahu segalanya tentang tren global, tapi tidak tahu apa yang sebenarnya kita yakini. Kita bisa menjelaskan krisis dunia dengan percaya diri, tapi gagap ketika ditanya: “Kau ingin menjadi apa?”

Pasar bergerak, dan kita ikut bergerak. Bukan karena itu panggilan jiwa, tapi karena takut tertinggal. Kita menertawakan generasi lama yang hidup sederhana, padahal mungkin mereka punya satu hal yang kini langka: kejelasan tujuan. Mereka tidak punya ribuan pilihan, tetapi mereka tahu apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup. Kita punya ribuan pilihan, tetapi sering kali tidak tahu untuk apa kita hidup.

Sarkasmenya begini: kita merayakan kebebasan memilih warna casing ponsel, tapi tidak sadar bahwa pola pikir kita sudah dicetak massal. Kita bangga bisa memesan apa pun dalam hitungan menit, tapi tak sabar menunggu proses belajar bertahun-tahun. Kita ingin hasil cepat, validasi cepat, kesuksesan cepat. Kecepatan menjadi dewa baru, dan kita adalah penyembahnya yang setia.

Kebebasan sejati mungkin bukan tentang banyaknya pilihan. Ia lebih dekat pada kemampuan untuk berkata “tidak” pada pilihan yang tidak kita butuhkan. Ia adalah keberanian untuk tidak mengikuti arus pasar ketika arus itu bertentangan dengan nilai yang kita pegang. Ia adalah kesadaran bahwa teknologi adalah alat, bukan tuan.

Zaman modern memberi kita peluang luar biasa. Sains dan teknologi membuka akses pengetahuan yang dulu hanya dimiliki segelintir orang. Itu fakta yang tak bisa disangkal. Namun alat yang sama bisa membebaskan atau memperbudak, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Pisau bisa memotong roti, bisa juga melukai. Internet bisa memperluas pikiran, bisa juga mempersempitnya.

Jadi mungkin pertanyaannya bukan apakah kita bebas. Pertanyaannya: siapa yang mengarahkan kompas kita? Jika kompas itu selalu menunjuk ke arah tren dan pasar, maka kebebasan hanyalah ilusi yang dibungkus notifikasi. Dunia modern memang memberi kita lebih banyak pintu. Tapi memilih pintu yang tepat tetap membutuhkan sesuatu yang tak bisa diunduh: kesadaran, disiplin, dan keberanian untuk berpikir sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Perlukah Seorang Perempuan Memiliki Pendidikan yang Tinggi

. Dilema Perempuan antara memilih mengurus Keluarga atau Melanjutkan Pendidikan Berbicara tentang perempuan dan pendidikan, tentunya ini menjadi dua hal yang menarik untuk dibicarakan. Sejak puluhan tahun yang lalu emansipasi wanita sering disebut-sebut oleh Kartini, sehingga kemudian hal ini menjadi sesuatu yang penting oleh sebagian kalangan. Namun, pada kenyataannya, dalam banyak hal wanita masih kerap ketinggalan, seolah memiliki sejumlah rintangan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik, salah satunya dalam bidang pendidikan. Ilustrasi (Pixabay.com) Meski sampai saat ini semua perempuan dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah seperti halnya pria, namun tidak sedikit juga perempuan yang enggan untuk melakukannya. Sebagian besar wanita merasa puas dengan pendidikan yang hanya menamatkan bangku SMA saja, bahkan ketika bisa menyelesaikan sarjana saja. Hanya sedikit perempuan yang punya keinginan untuk menempuh S2 dan juga S3, dan tentu saja jumlah untuk dua jenjang pendidikan...