Langsung ke konten utama

Nyaman Tak Selamanya Aman

Sebuah kenyamanan hari ini diperlakukan seperti oase di tengah gurun sosial. Semua orang haus. Semua orang lelah. Semua orang ingin dipeluk—atau setidaknya divalidasi. Maka ketika seorang yang kesepian, yang sejak kecil merasa seperti kursi cadangan dalam keluarga sendiri, tiba-tiba didatangi sosok “pahlawan”, rasanya seperti menemukan Wi-Fi gratis di tengah hutan. Sinyalnya kuat. Password-nya: perhatian.

Ironisnya, yang paling cepat memberi rasa aman sering kali bukan yang paling sehat, tapi yang paling lihai membaca celah. Ia datang membawa empati instan, dukungan tanpa diminta, arah hidup yang terdengar mantap. Seolah-olah ia punya kompas moral bawaan lahir. Padahal bisa saja ia sendiri sedang tersesat—hanya lebih percaya diri dalam menunjuk jalan.

Dari situ lahirlah hubungan yang “nyaman”. Nyaman karena ada yang mendengar. Nyaman karena ada yang selalu ada. Nyaman karena akhirnya ada yang memilih kita. Kenyamanan ini pelan-pelan berubah menjadi ketergantungan. Ketergantungan berubah menjadi cinta. Lalu ketika muncul bentakan, kontrol, bahkan kekerasan, logika sudah kalah oleh investasi emosional. “Dia cuma lagi capek.” “Dia berubah karena sayang.” Manusia punya bakat luar biasa untuk merasionalisasi luka, apalagi kalau luka itu datang dari satu-satunya tempat yang dulu terasa aman.

Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam relasi romantis. Dalam ranah spiritual dan intelektual pun sama. Seorang guru dengan ribuan pengikut dianggap otomatis benar. Jumlah like disamakan dengan kualitas kebenaran. Padahal sejarah penuh dengan contoh bahwa popularitas bukan indikator kebijaksanaan. Jim Jones memiliki pengikut setia yang rela mati bersamanya. Karisma bukan bukti kebenaran; kadang ia hanya alat retorika yang dipoles.

Masalahnya bukan pada kebutuhan akan kenyamanan. Itu manusiawi. Otak kita memang dirancang untuk mencari rasa aman; sistem saraf kita menyukai kepastian dan kelekatan. Masalahnya muncul ketika rasa aman itu dijadikan satu-satunya kompas. Kita berhenti bertanya: “Apakah ini sehat?” dan hanya bertanya: “Apakah ini membuatku tidak sendirian?”

Lalu muncul kekecewaan besar: siapa yang bisa dipercaya? Dunia terasa penuh kebohongan. Kebaikan dianggap kelemahan. Ketulusan dibalas manipulasi. Maka lahirlah godaan untuk berkata, “Kalau begitu lebih baik jadi jahat sekalian.” Setidaknya kalau sama-sama jahat, permainannya adil. Ini logika yang terdengar tegas, tapi sebenarnya reaktif. Ia bukan kekuatan; ia luka yang mengeras.

Ada ironi pahit di sini. Orang baik sering dimanfaatkan bukan karena dunia membenci kebaikan, tetapi karena mereka tidak pernah diajari batas. Mereka tahu memberi, tapi tidak tahu menyaring. Mereka tahu memahami, tapi tidak tahu menolak. Kebaikan tanpa batas bukanlah kebajikan; itu kebaikan yang belum selesai belajar.

Dunia memang penuh kemunafikan. Namun menyimpulkan bahwa semua orang busuk adalah cara tercepat untuk berhenti berpikir kritis. Generalisasi adalah selimut hangat bagi hati yang kecewa. Ia menyederhanakan kompleksitas menjadi satu kalimat sinis. Padahal kenyataannya lebih rumit: ada orang tulus, ada yang manipulatif, ada yang bingung, ada yang belajar. Banyak yang belum sembuh tapi berperan sebagai penyelamat.

Maka pertanyaannya bukan “siapa yang bisa dipercaya sepenuhnya,” melainkan “bagaimana cara kita membangun penilaian yang sehat.” Rasa aman yang matang tidak datang dari satu figur heroik, tetapi dari kombinasi: relasi yang saling mengoreksi, nilai yang diuji, dan keberanian untuk tidak nyaman sesekali. Kenyamanan sejati bukan yang membius, melainkan yang menguatkan.

Menjadi baik bukan berarti menjadi naif. Menjadi tegas bukan berarti menjadi jahat. Dunia mungkin tidak steril dari kemunafikan, tetapi itu bukan alasan untuk ikut menambah polusinya. Kebaikan yang disertai batas dan nalar justru bentuk perlawanan paling elegan terhadap kebusukan.

Kita tidak membutuhkan lebih banyak pahlawan. Kita membutuhkan lebih banyak manusia yang sadar bahwa mereka bisa salah—dan mau dikoreksi. Di tengah dunia yang bising oleh klaim kebenaran, kemampuan untuk ragu dengan sehat adalah benteng paling sunyi sekaligus paling kokoh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Perlukah Seorang Perempuan Memiliki Pendidikan yang Tinggi

. Dilema Perempuan antara memilih mengurus Keluarga atau Melanjutkan Pendidikan Berbicara tentang perempuan dan pendidikan, tentunya ini menjadi dua hal yang menarik untuk dibicarakan. Sejak puluhan tahun yang lalu emansipasi wanita sering disebut-sebut oleh Kartini, sehingga kemudian hal ini menjadi sesuatu yang penting oleh sebagian kalangan. Namun, pada kenyataannya, dalam banyak hal wanita masih kerap ketinggalan, seolah memiliki sejumlah rintangan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik, salah satunya dalam bidang pendidikan. Ilustrasi (Pixabay.com) Meski sampai saat ini semua perempuan dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah seperti halnya pria, namun tidak sedikit juga perempuan yang enggan untuk melakukannya. Sebagian besar wanita merasa puas dengan pendidikan yang hanya menamatkan bangku SMA saja, bahkan ketika bisa menyelesaikan sarjana saja. Hanya sedikit perempuan yang punya keinginan untuk menempuh S2 dan juga S3, dan tentu saja jumlah untuk dua jenjang pendidikan...