Langsung ke konten utama

Beragama Namun Tak Bertuhan

Ada satu spesies manusia yang menarik untuk diamati, nyaris seperti fosil hidup yang terus bereproduksi di setiap zaman: ahli agama yang rajin beragama, fasih mengutip ayat, lihai berkhutbah, tetapi entah di mana Tuhan mereka bersembunyi. Mungkin Tuhan sedang cuti panjang, atau mungkin memang tidak pernah benar-benar diundang masuk. Yang jelas, yang tinggal hanyalah jubah, simbol, dan suara lantang yang menuntut ditaati.

Manusia semacam ini tidak kekurangan ritual. Mereka hafal jadwal ibadah, tahu kapan harus marah dan kepada siapa, serta paham betul bagaimana mengatur ekspresi wajah agar tampak suci di depan kamera. Namun, di balik semua itu, agama telah direduksi menjadi sekadar kedok administratif. Tuhan bukan lagi pusat moral, melainkan stempel legitimasi. Jika Tuhan bisa berbicara, barangkali Ia akan protes karena namanya terlalu sering dipakai tanpa izin.

Agama, di tangan mereka, berubah fungsi. Ia tidak lagi menjadi jalan sunyi menuju kesadaran etis, melainkan palu godam untuk mengetuk kepala orang lain. Setiap perbedaan dianggap penyimpangan, setiap kritik dicap pembangkangan, dan setiap pertanyaan dinilai ancaman. Ajaran yang seharusnya mengajarkan kerendahan hati justru dipakai untuk memoles kesombongan. Ironisnya, semakin keras mereka bicara soal kebenaran, semakin samar jejak kebijaksanaan yang tertinggal.

Ahli agama tanpa Tuhan sangat mencintai kata “otoritas”. Mereka memeluknya lebih erat daripada nilai kasih, keadilan, atau empati. Otoritas memberi rasa aman: aman dari pertanyaan, aman dari koreksi, aman dari keharusan bercermin. Dengan otoritas, mereka tidak perlu benar; cukup berkuasa. Dan agama menyediakan panggung yang sempurna, lengkap dengan penonton yang diajari untuk bertepuk tangan, bukan berpikir.

Dalam logika mereka, iman bukan lagi relasi batin, melainkan kartu keanggotaan. Siapa yang berada di dalam lingkaran dianggap saleh, siapa di luar dicurigai, dan siapa yang berani menggeser kursi kekuasaan langsung diberi label sesat. Tuhan, sekali lagi, tidak dibutuhkan. Yang dibutuhkan hanyalah barisan pengikut yang patuh dan takut salah alamat surga.

Yang paling mengesankan adalah bagaimana penindasan ini dibungkus dengan bahasa moral. Diskriminasi disebut penjagaan akidah. Pembungkaman disebut demi ketertiban. Kekerasan simbolik disebut nasihat. Kekerasan nyata disebut ujian. Bahasa menjadi alat sulap: makna dibengkokkan sampai ketidakadilan tampak seperti kebajikan. Jika Orwell masih hidup, ia mungkin akan mencatat ini sebagai edisi revisi dari “newspeak”, versi religius.

Manusia beragama namun tak bertuhan juga sangat rajin mengukur iman orang lain, seolah-olah mereka memiliki meteran ilahi. Mereka lupa satu hal kecil yang mengganggu: iman bukan barang publik yang bisa ditimbang di mimbar. Ketika iman dijadikan instrumen kontrol, ia berhenti menjadi iman dan berubah menjadi ideologi. Dan ideologi, ketika disakralkan, selalu lapar korban.

Yang lebih menyedihkan, praktik ini sering dibela atas nama tradisi. Tradisi dijadikan museum beku yang tak boleh disentuh, padahal tradisi sejati hidup karena dialog dengan zaman. Namun bagi mereka, dialog berbahaya. Dialog membuka kemungkinan salah, dan salah adalah musuh utama kekuasaan. Maka yang dipelihara bukan kebenaran, melainkan kepastian palsu.

Pada akhirnya, manusia yang beragama tanpa Tuhan bukanlah pembela iman, melainkan pengelola ketakutan. Mereka menanam rasa bersalah, memanen kepatuhan, dan menyebutnya kesalehan. Tuhan direduksi menjadi logo, agama menjadi merek dagang, dan manusia menjadi objek. Inilah ironi terbesar: ketika agama kehilangan Tuhan, yang tersisa bukan kekosongan, melainkan mesin penindasan yang bekerja atas nama surga, sambil memastikan neraka hadir lebih dulu di bumi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Catatan Lapang Riset di Desa Cikeusal (Awal)

. Catatan Awal Sebuah Perjalanan di Bawah Kaki Gunung Kromong Sabtu 20 Maret 2021, pukul 12.30 saya bersama teman saya berangkat dari Pondok Pesantren Ulumuddin menuju desa yang hendak dijadikan aktifitas turun lapang, yakni desa Cikeusal. Diperjalanan tepatnya di Palimanan, kami terjebak hujan, dan memutuskan untuk meneduh di suatu warung. Pukul 13.00 di warung tersebut kita sempat berbincang-bincang sedikit dengan pemiliknya (kami lupa menanyakan namanya). Kami bertanya kepada pemilik warung rute menuju desa Cikeusal. Setelah memberitahu rute, Pemilik warung menceritakan sedikit mengenai desa Cikeusal, bahwa desa tersebut merupakan salah satu desa binaan dari pabrik Indocement, desa binaan lainnya yaitu Palimanan Barat, Cupang, Walahar, Gempol, Kedungbunder, Ciwaringin. Pada pukul 13.30 kami merasa hujan ini akan awet dan akhirnya kami memutuskan untuk berangkat menuju lokasi. Ketika menuju desa Cikeusal terlihat jalanan penuh lubang, dan banyak mobil truk pembawa batu a...