Langsung ke konten utama

Kebohongan di Awal Tahun Baru




Tahun baru selalu datang dengan dentuman kembang api dan kalimat klise yang dipoles seperti janji kampanye: “tahun ini harus lebih baik.” Kalimat itu diucapkan dengan wajah penuh harap, padahal di belakangnya ada jejak panjang kegagalan yang sengaja dilupakan. Resolusi awal tahun terdengar manis, tetapi jika dicium lebih dekat, baunya seperti nasi basi yang dipanaskan ulang—masih bisa ditelan, tapi rasanya getir dan memuakkan.

Kita pura-pura percaya bahwa pergantian angka di kalender memiliki kekuatan magis. Seolah-olah pada detik tertentu, ketika jarum jam bertabrakan di angka dua belas, dunia menekan tombol reset. Padahal yang di-reset hanya notifikasi ponsel dan sisa saldo rekening. Sistem tetap sama, wajah-wajah di kursi kekuasaan tetap itu-itu saja, dan kebobrokan tetap berdiri tegak seperti monumen nasional yang tak pernah diresmikan tetapi terus diperluas.

Pemerintahan yang katanya “berproses menuju perbaikan” justru seperti bangunan tua yang diplester ulang tanpa memperbaiki pondasinya. Retakannya ditutup dengan cat baru bernama slogan, sementara di dalamnya rayap kebijakan terus menggerogoti logika. Tahun berganti, tetapi cara kerja kekuasaan masih gemar memelihara masalah, karena masalah adalah ladang subur untuk janji-janji baru. Jika semua beres, lalu apa yang bisa dijual di tahun depan?

Bencana datang silih berganti, seolah alam pun ikut muak melihat manusia yang terlalu sibuk berpesta. Banjir, longsor, kebakaran, semuanya hadir tepat waktu, seperti tamu tak diundang yang selalu diabaikan saat undangan disebar. Konflik sosial pun tak kalah rajin muncul, membuktikan bahwa kita lebih mahir membangun tembok daripada jembatan. Tapi anehnya, semua itu tidak cukup untuk membatalkan pesta tahun baru. Kembang api harus tetap menyala, karena apa artinya penderitaan jika tidak bisa ditenggelamkan oleh cahaya warna-warni selama lima menit?

Lalu apa sebenarnya yang dirayakan? Apakah kita merayakan waktu yang berjalan maju, atau justru merayakan kemampuan kita untuk diam di tempat sambil bertepuk tangan? Tahun baru sering kali hanyalah festival coping mechanism massal. Kita berkumpul, menghitung mundur, bersorak, lalu pulang dengan kepala berat dan pikiran kosong, puas karena telah melakukan “ritual tahunan” yang katanya wajib. Bukan karena kita mengerti maknanya, tapi karena semua orang melakukannya. FOMO menjadi agama baru, dan kalender adalah kitab sucinya.

Resolusi pun ditulis dengan penuh gaya: hidup lebih sehat, lebih produktif, lebih bahagia. Kata “lebih” diulang-ulang, tapi jarang disertai kata “berubah.” Karena berubah itu menyakitkan. Jauh lebih nyaman menuliskan target di awal Januari, lalu menguburnya pelan-pelan di pertengahan Februari. Resolusi gagal bukan karena kita tidak mampu, melainkan karena sistem—baik sistem sosial maupun sistem dalam kepala—tidak pernah benar-benar dirancang untuk mendukung perubahan, hanya untuk menciptakan ilusi bahwa perubahan sedang terjadi.

Di tengah semua ini, perayaan tahun baru terasa seperti pesta topeng raksasa. Semua orang memakai wajah optimisme palsu, menutupi lelah, marah, dan putus asa. Sarkasme hidup di sela-sela senyum, berbisik bahwa kita sebenarnya tahu ini semua omong kosong. Tapi kita tetap datang ke pesta itu, karena menjadi sinis sendirian lebih menyedihkan daripada menjadi bodoh bersama-sama.

Mungkin yang patut dirayakan bukanlah tahun baru, melainkan kejujuran. Kejujuran bahwa tidak ada yang otomatis berubah hanya karena kalender berganti. Kejujuran bahwa tanpa keberanian melawan kebiasaan lama—baik kebiasaan pribadi maupun kebiasaan struktural—tahun depan hanyalah salinan buram dari tahun sebelumnya. Namun kejujuran tidak menjual tiket, tidak menyalakan kembang api, dan tidak menghasilkan unggahan media sosial yang ramai.

Jadi silakan rayakan tahun baru jika itu membuatmu merasa hidup, tetapi jangan pura-pura itu adalah awal yang suci. Itu hanyalah malam lain yang kebetulan diberi nama. Dan mungkin, sarkasme paling pahit adalah ini: kita tahu semua itu, tapi tetap ikut menghitung mundur, berharap kali ini kebohongan kolektif itu entah bagaimana menjadi kenyataan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Catatan Lapang Riset di Desa Cikeusal (Awal)

. Catatan Awal Sebuah Perjalanan di Bawah Kaki Gunung Kromong Sabtu 20 Maret 2021, pukul 12.30 saya bersama teman saya berangkat dari Pondok Pesantren Ulumuddin menuju desa yang hendak dijadikan aktifitas turun lapang, yakni desa Cikeusal. Diperjalanan tepatnya di Palimanan, kami terjebak hujan, dan memutuskan untuk meneduh di suatu warung. Pukul 13.00 di warung tersebut kita sempat berbincang-bincang sedikit dengan pemiliknya (kami lupa menanyakan namanya). Kami bertanya kepada pemilik warung rute menuju desa Cikeusal. Setelah memberitahu rute, Pemilik warung menceritakan sedikit mengenai desa Cikeusal, bahwa desa tersebut merupakan salah satu desa binaan dari pabrik Indocement, desa binaan lainnya yaitu Palimanan Barat, Cupang, Walahar, Gempol, Kedungbunder, Ciwaringin. Pada pukul 13.30 kami merasa hujan ini akan awet dan akhirnya kami memutuskan untuk berangkat menuju lokasi. Ketika menuju desa Cikeusal terlihat jalanan penuh lubang, dan banyak mobil truk pembawa batu a...