Langsung ke konten utama

Berharap Generasi Boomer Itu Cepat Punah

Ketika generasi yang sering dijuluki “boomer” itu akhirnya pensiun permanen dari panggung sejarah secara biologis maupun struktural dunia tidak langsung kiamat, tidak juga langsung utopia. Tidak ada sirene kosmik berbunyi, tidak ada patch update otomatis dari semesta yang berbunyi: “Selamat, sistem sosial berhasil diperbarui ke versi Milenial 3.0 dan Gen Z 1.5.” Dunia tetap berputar, tagihan tetap datang, dan algoritma tetap lebih tahu isi hati kita daripada kita sendiri.

Selama ini narasinya sederhana dan agak malas berpikir: boomer = kolot, milenial dan gen z = progresif. Seolah-olah sejarah adalah pertandingan sepak bola dan generasi hanyalah dua klub yang saling ejek di kolom komentar. Padahal realitas sosial lebih mirip ekosistem. Tidak ada generasi yang lahir dari ruang hampa. Milenial dan Gen Z dibesarkan oleh siapa? Ya oleh generasi yang sekarang sering mereka sindir. Ironi kecil yang lucu.

Bayangkan skenario ketika kursi-kursi kekuasaan, ruang-ruang rapat, dan meja kebijakan diisi penuh oleh milenial dan Gen Z. Awalnya mungkin penuh optimisme. Jam kerja fleksibel. Rapat via Zoom sambil pakai hoodie. Kebijakan publik dikemas dalam infografis estetik dengan warna pastel. Presentasi anggaran negara dibuat seperti konten carousel Instagram: slide pertama memancing emosi, slide terakhir ajakan refleksi.

Tapi hukum gravitasi sosial tetap berlaku. Kekuasaan, seperti dalam eksperimen fisika sosial mana pun, cenderung mengeras. Orang yang dulu mengeluh tentang atasan yang kaku bisa saja pelan-pelan berubah menjadi versi digital dari atasan itu hanya dengan emoji yang lebih banyak. Dulu mengkritik budaya kerja toxic, sekarang membuat standar “passion-driven” yang artinya kerja lembur dengan senyum dan kopi literan. Evolusi? Ya. Otomatis lebih baik? Belum tentu.

Setiap generasi yakin dirinya lebih sadar, lebih tercerahkan, lebih “woke” dari generasi sebelumnya. Itu ilusi yang diwariskan turun-temurun. Dulu mungkin ada yang berkata, “Anak muda sekarang terlalu berisik.” Sekarang terdengar, “Boomer tidak relevan.” Siklusnya seperti roda. Yang berubah hanya font dan platformnya.

Namun ada satu hal yang memang berbeda: konteks teknologi. Milenial dan Gen Z tumbuh dalam ekosistem internet. Informasi mengalir deras, tetapi kebijaksanaan tidak selalu ikut mengalir. Kita punya akses jurnal ilmiah, tapi juga teori konspirasi dalam satu klik. Jadi ketika generasi ini memegang kendali, mereka membawa dua pedang sekaligus: literasi digital dan distraksi digital.

Secara sosiologis, pergeseran generasi memang bisa mengubah prioritas. Isu kesehatan mental mungkin lebih diakui. Keragaman lebih dirayakan. Struktur kerja mungkin lebih fleksibel. Tapi ekonomi tetap tunduk pada hukum dasar: sumber daya terbatas, keinginan tak terbatas. Kapitalisme tidak otomatis runtuh hanya karena pemimpinnya lahir tahun 1995. Sistem itu adaptif, seperti organisme yang pintar.

Yang sering luput adalah kenyataan bahwa “boomer” bukanlah satu pikiran kolektif, begitu juga milenial dan Gen Z. Ada boomer yang progresif, ada Gen Z yang konservatif. Menggeneralisasi seluruh kelompok berdasarkan tahun lahir adalah cara cepat untuk merasa benar tanpa repot berpikir.

Sindiran paling tajam justru mungkin mengarah ke kita semua. Kita menunggu generasi lama “pergi” seolah-olah masalah ikut pergi bersama mereka. Padahal banyak masalah itu struktural: ketimpangan ekonomi, eksploitasi sumber daya, politik identitas. Mengganti pemain tanpa mengubah aturan permainan hanya menghasilkan drama baru dengan naskah lama.

Kalau ada yang benar-benar menarik dari pergantian generasi, itu bukan soal siapa lebih baik, tapi bagaimana nilai-nilai diuji ulang. Setiap generasi membawa eksperimen sosialnya sendiri. Sebagian berhasil, sebagian gagal. Sejarah bukan garis lurus menuju kesempurnaan, melainkan grafik naik-turun yang penuh revisi.

Mungkin yang lebih relevan bukan menunggu generasi tertentu punah, tapi memperbaiki cara kita berpikir lintas generasi. Menggabungkan pengalaman dengan energi, kehati-hatian dengan keberanian. Evolusi sosial terbaik jarang datang dari penghapusan total, tapi dari sintesis.

Jadi ketika suatu hari ruang rapat sepenuhnya diisi milenial dan Gen Z, jangan kaget kalau terdengar kalimat, “Anak-anak generasi setelah kita ini kok aneh ya.” Di situlah lingkaran sejarah tertawa pelan, mengingatkan bahwa waktu adalah kritikus paling setia dan paling sarkastik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Perlukah Seorang Perempuan Memiliki Pendidikan yang Tinggi

. Dilema Perempuan antara memilih mengurus Keluarga atau Melanjutkan Pendidikan Berbicara tentang perempuan dan pendidikan, tentunya ini menjadi dua hal yang menarik untuk dibicarakan. Sejak puluhan tahun yang lalu emansipasi wanita sering disebut-sebut oleh Kartini, sehingga kemudian hal ini menjadi sesuatu yang penting oleh sebagian kalangan. Namun, pada kenyataannya, dalam banyak hal wanita masih kerap ketinggalan, seolah memiliki sejumlah rintangan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik, salah satunya dalam bidang pendidikan. Ilustrasi (Pixabay.com) Meski sampai saat ini semua perempuan dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah seperti halnya pria, namun tidak sedikit juga perempuan yang enggan untuk melakukannya. Sebagian besar wanita merasa puas dengan pendidikan yang hanya menamatkan bangku SMA saja, bahkan ketika bisa menyelesaikan sarjana saja. Hanya sedikit perempuan yang punya keinginan untuk menempuh S2 dan juga S3, dan tentu saja jumlah untuk dua jenjang pendidikan...