Langsung ke konten utama

Data Sebagai Kontrol Manusia

Sekarang ini kita berat pada dunia yang mana manusia harus ad pada sebuah pendataan atau administratif. Memang secara fungsi ini memiliki manfaat terutama bagi kita dalam melakukan sesuatu dengan pendataan ini akses apapun semakin mudah, dari mulai pendidikan, kesehatan, keuangan, dan bahkan sampai sesuatu tentang kepribadian diri kita.

Data ini mungkin tidak hanya sekedar mencatat bahwa kita diakui tetapi juga itu sebagai identitas diri kita dalam hidup. Meski demikian apakah pendataan itu begitu penting dalam hidup manusia. Di sisi lain Ia sebagai sebuah identitas namun di sisi lain Ia menjadi sebuah kontrol manusia bahkan sampai kepada diri manusia.

Seakan administrasi ini jauh lebih penting ketimbang diri manusia itu sendiri. Ada namanya identitas administratif,  identitas citra, identitas sosial, dan identitas jiwa. Secara terperinci, identitas administratif hanya mencakup nama, alamat, status, agama dan lain sebagainya itu merupakan sesuatu yang umum dan mungkin manusia memiliki itu semua. Kemudian ada identitas citra yakni identitas kita pad media sosial mengenai bagaimana penampilan yang tentunya dapat terlihat oleh indra telinga dan mata. Pada intinya Ia adalah sebuah identitas diri kita yang berada pada media sosial, yang mana kita tidak saling mengenal satu sama lain di dunia nyata. Ia tentu bisa dibentuk atas kontrol sosial media demi tujuan sebuah infotaiment. 



Kemudian ada identitas sosial yang mana ini melekat pada kehidupan kita dan inipun sama seperti media sosial namun dengan skala kecil dan intens. Dimana kehidupan yang nyata ini mungkin lebih dekat dimana orang-orang disekitar kita tahu seperti apa diri kita dalam dunia secara langsung.

Meski demikian lapisan terdalam mengenai identitas ini tentu adalah identitas jiwa, yang mana hanya diri kita dan Tuhan saja yang tahu. Karena itu mencakup pikiran hati dan jiwa. Ini tentunya manusia tidak bisa menilai bahkan melihat tentang identitas jiwa manusia. Makanya jangan mudah menjudge manusia hanya sekedar luarannya, karena belum tentu identitas jiwa itu mencerminkan identitas sosial. 

Namun demikian, jangankan orang lain bahkan diri kita sendiri sering terjebak dalam narasi identitas luar. Yang mana ketika orang lain menilai kita seperti ini maka itu adalah dianggap benar dan itu lah diri kita padahal belum tentu. Dan sehingga manusia lupa pada identitas jiwanya sehingga Ia rela untuk dikontrol oleh dunia sosial. 

Memang kita tidak lepas dari sebuah bahasa, memang kita tidak bis lepas dari etnis, suku daerah, zaman dan apapun itu, yang pasti itu adalah identitas kita tetapi itu adalah identitas luar jiwa. Apakah identitas luar itu tidak penting? Tentu saja tidak karena memang itu merupakan suatu kebutuhan sosial hidup kita. Akan tetapi kita tentu saja jangan hanya berhenti disitu saja.

Memang menjadi sebuah kebanggaan ketika kita diakui, memiliki status sosial yang tinggi dan terpandang. Banyak manusia berusaha untuk mengejar sebuah status sosial dan ini mungkin lebih penting ketimbang status jiwa. Meski ini menjadi sebuah kebanggaan, namun di sisi lain ini sebetulnya telah menghilang kan jiwa manusia.

Hal ini bisa terjadi terjadi karena manusia lebih terfokus pada narasi sosial. Manusia lebih mengejar mengenai  bagaimana mendapat nilai yang tinggi ketimbang mencari ilmu yang bermanfaat. Seakan-akan nilai merupakan sebuah bukti bahwa kita adalah manusia yang pintar. Meski identitas sosial ini terlihat kongkrit padahal secara hakiki ini merupakan identitas yang semu. Dimana Ia pada akhirnya merupakan sebuah identitas yang pada akhirnya terbuang begitu saja. Coba kita lihat berapa banyak manusia yang memiliki nilai tinggi namun hany sedikit dari yang dari mereka yang sungguh-sungguh dalam mengamalkan ilmunya sedangkan sisanya hanya mengejar tugas agar dapat nilai tinggi. Pada akhirnya Ia menjadi manusia yang beridentitas namun identitas kosong. 

Kita pun juga telah dikontrol oleh sebuah administrasi yang mana ini adalah sebuah cara halus agar manusia terkurung, kita tidak bebas dan kita harus mengikuti apa kemauan mengenai kebijakan-kebijakan yang entah apakah itu untuk kemaslahatan banyak atau untuk kontrol kehidupan. 

Dari bangun pagi sampai tidur dari hidup sampai mati hidup kita dikontrol dalam sebuah data, yang mana data itu lebih baik ketimbang kehidupan kita. Manusia dikatakan ada jika datanya ada, jika tidak ada data maka manusia itu dianggap tidak ada. Orang yang tak terdata pasti akan sulit hidup di negara yang seba administratif, kesehatan, pendidikan, konsumsi saat ini tentu hany mereka yang sudah terdata. Memang saat ini jangan harap manusia memanusiakan yang lainnya, jika tidak memiliki data. 

Manusia yang dilihat saat ini hanyalah sekumpulan data-data. Tidak peduli apakah Ia baik ataupun buruk 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Perlukah Seorang Perempuan Memiliki Pendidikan yang Tinggi

. Dilema Perempuan antara memilih mengurus Keluarga atau Melanjutkan Pendidikan Berbicara tentang perempuan dan pendidikan, tentunya ini menjadi dua hal yang menarik untuk dibicarakan. Sejak puluhan tahun yang lalu emansipasi wanita sering disebut-sebut oleh Kartini, sehingga kemudian hal ini menjadi sesuatu yang penting oleh sebagian kalangan. Namun, pada kenyataannya, dalam banyak hal wanita masih kerap ketinggalan, seolah memiliki sejumlah rintangan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik, salah satunya dalam bidang pendidikan. Ilustrasi (Pixabay.com) Meski sampai saat ini semua perempuan dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah seperti halnya pria, namun tidak sedikit juga perempuan yang enggan untuk melakukannya. Sebagian besar wanita merasa puas dengan pendidikan yang hanya menamatkan bangku SMA saja, bahkan ketika bisa menyelesaikan sarjana saja. Hanya sedikit perempuan yang punya keinginan untuk menempuh S2 dan juga S3, dan tentu saja jumlah untuk dua jenjang pendidikan...