Langsung ke konten utama

Ciri syarakat Teknologi Menurut Marcuse

Menurut marcuse, masyarakat hari ini cirinya itu adalah teknologi. Maka dia menyebutnya masyarakat teknologi. Cirinya, yakni: 

Manusia itu tidak penting. Peran manusia tidak menonjol, lebih populer teknologinya. Kalau ada artis yang mempromosikan prodak itu lebih penting artisnya atau produknya, tentu saja yang ditonjolkan produknya. Motor keluaran baru, mobil keluaran barus meskipun yang mengiklankan sexy tetap saja yang ditonjolkan adalah teknologinya. Teknologi lebih menonjol dan lebih penting daripada manusianya. Smartphone itu kita anggap yang penting bisa wa, internet sama media sosial itu saja sudah cukup, tidak perlu merek terbaru atau keluaran baru yang memiliki fitur canggih karena pada akhirnya meski fiturnya banyak akan tetapi tidak semuanya dipakai. Tetapi itu dianggapnya hebat dan keren namun lebih menonjol smarphone-nya. Ketika kita memiliki android sementara teman-teman kita memiliki Iphone, maka kita tidak mau menonjolkan smartphone yang kita miliki karena malu. Mungkin kita adalah orang pintar dan baik, namun karena smartphonenya jelek sehingga minder. 



Sehingga resikonya manusia teraleniasi dari lingkungannya. Jadi kita tidak mengekspresikan sisi manusiawi kita karena ada teknologi. Sisi-sisi manusia seperti keakraban, keintiman, ketulusan dimana manusia seperti itu memang susah untuk dicari. 

Kalau dulu manusia itu memilki tujuan hidup sekarang tujuan itu, dikondisikan di situasi yang namanya teknologi tadi. Jadi tidak bisa lagi kita apakah ingin atau tidak. Sekarang mau berbicara apapun harus mempertimbangkan teknologi, mencari sebuah kata yang menjual dan viral. Terkadang ketika berlibur saja kita tidak menikmati kita sedang berada dimana, tetapi tujuannya untuk mencari sudut mana yang bagus untuk berswafoto. Jadi, tidak melihat alam seindah itu menjadi fokusnya. Itu apakah yang disebut dengan nenikmati, sedangkan apa yang dicari adalah pemer ke orang lain. Jadi teknologi mengendalikan kita bukan kita yang mengendalikan teknologi. Itu cirinya masyarakat teknologi dan akhirnya kita ditindas oleh yang namanya teknologi. Hari ini kita tidak bisa lepas dari smartphone. Ditinggal pacar jauh mungkin tidak masalah akan tetapi kalau meninggalkan smartphone padahal hanya sejam itu sudah merasa gelisah. 

Jadi kita merupakan masyarakat yang teknis sekali cara berfikir kita persis seperti robot. Cara hidup kita seperti itu dan semuanya pakai mesin, telat beberapa menit saja dianggap telat. Itu sebenarnya agak tidak manusiawi. 

Jadi teknologi menindas kita, smartphone, motor, mobil, laptop, pakaian dan semacamnya itukan merupakan penindasan. Kita tidak lagi main fungsi tetapi banyak main gengsi teknologi. 

Ternyata manusia melayani kemajuan bukan kemajuan melayani kebutuhan manusia. Jadi ternyata harusnya teknologi itu membuat kita mudah namun karena kita terjajah oleh teknologi maka kit yang melayani teknologi. Harusnya memiliki robot itu membuat hidup kita menjadi ringan. Tetapi begitu memiliki robot kita sibuk memelihara robot. 

Padahal adanya teknologi membuat hidup kita semakin mudah ternyata begitu adanya teknologi hidup kita semakin ribet dan kita rela disibukan oleh teknologi. 

Ternyata bukan kebutuhan nyata manusia yang menentukan proses produksi melainkan kebutuhan itu sendiri diciptakan supaya hasil produksi bisa laku. Beli smartphone bukan karena butuh komunikasi via smartphone tetapi kita dibuat agar butuh smartphone oleh produsen smartphone. Kita dibuat butuh merk A dan B dengan kualitas kamera yang resolusinya tinggi. Sebenarnya kita ini butuh smartphone atau kamera. Sebetulnya kita tidak butuh itu tetapi sengaja untuk dibuat butuh itu oleh produsen. 

Harusnya produksi itu memenuhi kebutuhan kita tetapi sekarang kan logikanya terbalik. Kita dibuat butuh oleh sistem produksi. Tidak hanya smartphone. Mulai merk baju, skincare, make up bahkan hari ini banyak make up khusus pria. itu kan dibuat agar butuh oleh dunia produksi padahal obat pembersih muka itu antara pria dan wanita itu sama tetapi dilabeli ini untuk pria dan ini untuk perempuan. Akhirnya kita terpengaruh untuk membeli karen itu untuk pria, padahal selama ini tidak butuh itu mau pakai atau tidak juga tidak pakai tetap sama mukanya seperti itu. Tetapi kita akan merasa percaya diri kalau pakai itu. Jadi kit dibuat butuh oleh produksi, merek motor juga seperti itu, merek pakaian juga seperti itu. Bahannya sama-sama kain hanya saja yang satu merek terkenal dan yang satu bukan merek terkenal sehingga lebih memilih yang lebih terkenal meski mahal setelah dipromosikan macam-macam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Perlukah Seorang Perempuan Memiliki Pendidikan yang Tinggi

. Dilema Perempuan antara memilih mengurus Keluarga atau Melanjutkan Pendidikan Berbicara tentang perempuan dan pendidikan, tentunya ini menjadi dua hal yang menarik untuk dibicarakan. Sejak puluhan tahun yang lalu emansipasi wanita sering disebut-sebut oleh Kartini, sehingga kemudian hal ini menjadi sesuatu yang penting oleh sebagian kalangan. Namun, pada kenyataannya, dalam banyak hal wanita masih kerap ketinggalan, seolah memiliki sejumlah rintangan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik, salah satunya dalam bidang pendidikan. Ilustrasi (Pixabay.com) Meski sampai saat ini semua perempuan dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah seperti halnya pria, namun tidak sedikit juga perempuan yang enggan untuk melakukannya. Sebagian besar wanita merasa puas dengan pendidikan yang hanya menamatkan bangku SMA saja, bahkan ketika bisa menyelesaikan sarjana saja. Hanya sedikit perempuan yang punya keinginan untuk menempuh S2 dan juga S3, dan tentu saja jumlah untuk dua jenjang pendidikan...