Langsung ke konten utama

Kesenangan dalam Kendali Pasar

Muncul sebuah kesenangan, sebenarnya dari mana asalnya. Apakah itu sesuatu yang tiba-tiba ada atau sebenarnya hal itu sudah diatur. Manusia di dunia ini siapa yang tidak ingin senang, semuanya rela mengejar itu semua meski banyak uang, waktu dan kedekatan itu semua rela dikorbankan. Hanya demi sebuah kesenangan manusia rela mengorbankan segal hal. 

Lalu, apakah betul jika kesenangan muncul dalam diri atau justru memang ada yang mengontrol diri kita atau mempengaruhi diri kita sehingga menganggap itu adalah kesenangan yang dicari. Misalnya ketika senang dengan sang idola apakah kira-kira muncul dengan tiba-tiba tanpa perantara orang lain. 

(Pixabay.com)

Sebenarnya di dalam kesenangan itu ada yang namanya kontrol sosial. Meski tidak terlihat seperti memaksa seperti sebuah aturan hukum, namun sebenarnya ini juga memaksa namun secara halus. Orang tidak sadar ketika senang bahwa dirinya dipaksa untuk dikendalikan. 

Seperti misalnya saja ketika senang dengan sesosok idola, sebenarnya itu sesuatu yang memaksa. Senang artinya memaksa memang seperti itulah yang terjadi. Bahkan mungkin kita rela mengorbankan banyak hal demi sang idola yang disenangi itu, walaupun tidak ada imbalan sepeserpun yang didapat ketika Ia merasa senang maka itu lebih dari cukup. 

Pasar memanfaatkan momen seperti ini agar barang dagangannya laku, mensugesti dengan iklan-iklan yang terpampang dimana-mana, bahwa itu lah yang membuatnya senang dan merasa puas. Para fans yang menggilai sang idola rela membeli suatu barang yang ad kaitannya dengan sang idola, seperti pernak-pernik, foto dan semacamnya. Pasar membuat mereka senang dan uang pun akan datang, mudah sekali ternyata membodohi manusia-manusia. Menyulap barang biasa menjadi barang yang seakan luar biasa. 

Saat ini memang banyak industri-industri hiburan yang banyak di sana-sini. Kebutuhan manusia memang tidak hanya sekedar kebutuhan perut saja, tetapi juga kebutuhan perasaan. Manusia memang selalu memaknai barang-barang, sehingga memiliki nilai tinggi. Di mata umum barang seperti misalnya mainan mungkin itu untuk anak kecil, namun bagi par kolektor mainan itu merupakan barang yang berharga. 

Manusia memang seperti itu, menganggap bahwa yang kosong itu adalah isi sedangkan yang isi itu adalah kosong. Maksudnya seperti liburan, barang mewah, makan-makanan enak sebenarnya itu hal yang biasa saja sebenarnya, namun bagi yang senang mungkin sesuatu hal yang luar biasa. Sedangkan yang isi dianggap kosong, seperti belajar, membaca, menulis dan semisalnya dianggap sesuatu yang menyebalkan. Karena dianggap memusingkan bagi otaknya. 

Ini tentunya ada peran luar dibalik itu semua, tentu pastinya pasar. Dimana para pebisnis membaca peluang ini lalu memproduksi kesenangan apa yang mereka butuhkan. Bahkan yang dulunya tidak senang pun juga ikut terjerat kedalamnya, tidak sedikit orang kampung lalu pergi ke kota menganggap dirinya sudah keren dan sukses menganggap orang kampung adalah orang yang ketinggalan. Padahal ia tertipu, otaknya sudah dikontrol oleh pasar menframing dirinya bahwa yang keren itu seperti ini dan seperti itu. 

Mereka yang lalai dan terjebak dalam kesenangan yang fana mereka tak sadar bahwa perasaan dan pikirannya sudah di kendalikan. Membuat mereka candu akan kesenangan yang fana, kebutuhan akan kesenangan semakin menjadi-jadi lalu pada akhirnya terjebak dalam kendali pasar. 

Pasar tidak peduli apakah orang yang senang itu hancur pada akhirnya, yang penting mereka untung dengan apa yang mereka lakukan dengan memberikan kesenangan kepada banyak orang. Semakin banyak yang senang maka semakin banyak yang minat untuk membeli, semakin banyak yang membeli maka semakin banyak keuntungan yang didapat.

Pembeli adalah raja sebetulnya itu adalah sesuatu yang fana, yang ada adah perusahaan adalah raja, menjadikan para konsumen menjadi seorang budak. Selalu ketergantungan yang pada akhirnya mereka tak dapat merdeka dari kendali pasar. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Perlukah Seorang Perempuan Memiliki Pendidikan yang Tinggi

. Dilema Perempuan antara memilih mengurus Keluarga atau Melanjutkan Pendidikan Berbicara tentang perempuan dan pendidikan, tentunya ini menjadi dua hal yang menarik untuk dibicarakan. Sejak puluhan tahun yang lalu emansipasi wanita sering disebut-sebut oleh Kartini, sehingga kemudian hal ini menjadi sesuatu yang penting oleh sebagian kalangan. Namun, pada kenyataannya, dalam banyak hal wanita masih kerap ketinggalan, seolah memiliki sejumlah rintangan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik, salah satunya dalam bidang pendidikan. Ilustrasi (Pixabay.com) Meski sampai saat ini semua perempuan dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah seperti halnya pria, namun tidak sedikit juga perempuan yang enggan untuk melakukannya. Sebagian besar wanita merasa puas dengan pendidikan yang hanya menamatkan bangku SMA saja, bahkan ketika bisa menyelesaikan sarjana saja. Hanya sedikit perempuan yang punya keinginan untuk menempuh S2 dan juga S3, dan tentu saja jumlah untuk dua jenjang pendidikan...