Langsung ke konten utama

Dunia Tak Senormal yang Dikira

Ketika melihat sebuah fenomena dalam hidup, mungkin kita mengira bahwa dalam hidup ini terasa biasa-biasa saja. Dari pagi sampai sore aktifitas sekolah atau bekerja terasa seperti itu saja aktifitasnya. Hal ini memang terjadi karena proses normalisasi, dimana apa yang terlihat masalah menjadi hal yang biasa saja. 

Coba jika berpikir secar kritis, kita akan sadar bahwa apa yang terjadi selama ini tidaklah sebaik yang dikira. Orang yang baik bagi kita seperti orang tua teman atau orang yang dikenal lainnya mungkin terasa biasa saja tetapi mungkin di balik itu semua mereka selalu menyimpan sebuah rahasia. Kita juga tidak tahu apa niat dan tujuannya mereka dekat dengan kita dan disisi lain mungkin Ia adalah musuh dalam selimut. Bukan berarti menganggap semua orang itu jahat, namun apa salahnya jika mengetahui seseorang lebih dalam lagi agar kita tidak terjebak. Karena banyaknya salah pergaulan karena kita tidak memeriksa orang tersebut dan menganggapnya adalah orang yang baik. 



Jika kita berpikir secara luas dalam siklus hidup sosial, sebenarnya dunia ini tidaklah sebaik yang dikira. Apa yang kita makan di hari ini mungkin di dalamnya ada perjuangan untuk mendapatkannya atau menghasilkannya. Lelahnya para nelayan dalam mengambil ikan dan para petani yang bekerja di ladang itu semua mungkin tidak diketahui. Hal ini karena memang kita jauh dari belahan kehidupan lainnya, maka dari itu jika tahu bahwa perjuangan dalam mencari makan itu sulit maka hargailah. Ini bukan soal uang yang dapat membeli banyak hal tetapi mengenai perjuangan untuk mendapatkan makanan.

Sebuah kebanggaan bagi banyak orang mengira bahwa banyak membeli barang apa lagi barang tersebut adalah barang yang branded merupakan hal yang membanggakan. Bagi orang kaya mungkin itu sebuah kebanggaan namun bagi yang uangnya pas-pasan untuk apa itu semua, rasanya tidaklah penting. Banyak sebetulnya barang-barang itu diciptakan dimana banyak yang merasa tersiksa, terkuras tenaganya, hanya lelah yang didapat.

Barang-barang yang dikira mewah sebenarnya adalah mereka para pekerja pabrik yang menciptakannya. Para pengusaha mereka memang bisa apa, bisanya hanya menyuruh-nyuruh saja. Sepatu, baju, dan benda lainnya yang dipakai seakan mewah padahal buatan lokal kemudian dihias dengan brand seakan terlihat mewah. Enak yah mereka, bisa membuat barang yang susah payah bekerja namun di upah murah, kemudian ditangan mereka menjadi barang yang harganya berkal-kali lipat. Semestinya mereka yang bekerja di pabriklah yang layak untuk mendapatkannya. 

Pendidikan yang kita kira terlihat baik-baik saja sebenarnya dibalik itu semua ada sistem pencucian otak. Memang kota tidak menyadari itu semua jika kita dicuci otaknya, karena para guru lun juga sama juga dicuci otaknya. Kita tidak pernah diajarkan untuk mengkritisi dan kreatif bukan, nah disinilah pencucian otaknya. Menjadi manusia-manusia yang haus akan pekerjaan, setiap anak tujuan sekolahnya pasti untuk cari uang. Bullshit jika tujuannya ingin jadi pintar semuanya pasti tujuannya untuk bekerja dan seperti itu lah siklus dunia. Dimana pendidikan yang menjinakkan kita agar tidak melawan atau mengkritisi. 

Mungkin kita mengira bahwa menjadi seorang petani atau nelayan adalah hal yang tidak menjanjikan dimana mereka tak punya pengharapan untuk menjadi sukses. Itulah pikiran bodoh anak-anak sekarang, tak tahu apa-apa, melihat realita hanya sebatas di layar ponsel saja. Mereka sebenarnya bukanlah orang miskin karena mereka punya lahan punya karya dan bisa memproduksi sesuatu, namun sayang mereka belum merdeka. Ada orang-orang serakah yang membuat mereka selalu berada dalam lingkar kemiskinan. 

Wisata-wisata yang kita kira menyenangkan bagi mereka orang-orang yang narsis senang berfoto ria, rupanya tak sadar bahwa mereka bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Kalau diteliti lebih dalam di sana mungkin banyak orang lokal yang sebenarnya tak mendapatkan hasil kecuali Ia pedagang. Mereka seorang petani dan nelayan harus terusir dari ruang hidupnya. Dampak dari sebuah wisata sebenarnya rak memberikan dampak positif bagi kesejahteraan mereka justru memperburuk keadaan hidupnya. 

Mungkin kita mengira bahwa dunia ini terlihat baik-baik saja padahal di balik itu semua ada banyak orang yang menderita entah terusir dari ruang hidupnya atau menjadi seorang budak selamanya. Bukalah mata dan bukalah telinga, jangan mudah terkecoh dengan dunia yang terlihat norman-normal saja. Sebenarnya ada banyak lagi yang belum terekspose, semakin banyak sisi buruk dunia ini diketahui maka semaki sesak rasanya dalam hidup ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Perlukah Seorang Perempuan Memiliki Pendidikan yang Tinggi

. Dilema Perempuan antara memilih mengurus Keluarga atau Melanjutkan Pendidikan Berbicara tentang perempuan dan pendidikan, tentunya ini menjadi dua hal yang menarik untuk dibicarakan. Sejak puluhan tahun yang lalu emansipasi wanita sering disebut-sebut oleh Kartini, sehingga kemudian hal ini menjadi sesuatu yang penting oleh sebagian kalangan. Namun, pada kenyataannya, dalam banyak hal wanita masih kerap ketinggalan, seolah memiliki sejumlah rintangan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik, salah satunya dalam bidang pendidikan. Ilustrasi (Pixabay.com) Meski sampai saat ini semua perempuan dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah seperti halnya pria, namun tidak sedikit juga perempuan yang enggan untuk melakukannya. Sebagian besar wanita merasa puas dengan pendidikan yang hanya menamatkan bangku SMA saja, bahkan ketika bisa menyelesaikan sarjana saja. Hanya sedikit perempuan yang punya keinginan untuk menempuh S2 dan juga S3, dan tentu saja jumlah untuk dua jenjang pendidikan...