Langsung ke konten utama

Puncak dari Kenikmatan

Sebuah kenikmatan ada suatu tujuan yang sellau ingin dicapai oleh manusia. Manusia bekerja keras meski banyak rintangan dan rasa sakit yang diderita hanya demi mendapatkan sebuah kenikmatan. Ketika sebuah kenikmatan itu sudah dicapai, maka derita yang telah lalu tidak terasa dan sudah terbayarkan oleh kenikmatan tersebut. Ini memang hal yang aneh pada diri manusia, sebuah kenikmatan memang tidak bisa dinalar oleh logika dan itu tidak dapat dipelajari. Ia hanya bisa dirasakan, cara mengetahuinya memang dengan dirasa. 

Bagi mereka yang tak mau lelah mungkin apa gunanya mendaki sebuah gunung, menghabiskan uang hanya demi menggapai puncak. Secara logika memang sulit untuk dinalar, namun jika dirasa Ia akan mengetahui seberapa nikmatnya menaiki gunung. Dan kenikmatan lainnya yang tak bisa dinalar mungkin juga seperti itu, manusia harus tenggelam dalam rasa tersebut agar mengetahui kenikmatan tersebut tidak cukup jika hanya diketahui saja. 

(Pixabay.com)

Untuk mendapatkan kenikmatan tersebut tentu saja tidak mudah begitu saja didapat ada beberapa proses yang harus dilakukan:

Mencoba

Untuk menggapai sebuah kenikmatan memang tahap awalnya adalah mencoba. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa kenikmatan tidak akan di dapat jika tanpa ada proses mencoba. Mencoba artinya merasa melakukan sesuatu yang dianggapnya menarik untuk dilakukan. Mencoba adalah suatu proses untuk mencari kecocokan dalam mendapatkan sebuah kenikmatan. Ia harus meraba dengan kelima indra beserta indra perasaan.

Merasa dengan perasaan

Mencoba tidak akan pernah cukup jika perasaan itu tak hadir. Perasaan menjadi suatu yang mendasar dalam mencoba, lidah yang mengecap, mata yang melihat, dan alat indra yang lainnya tidak akan bisa berfungsi untuk merasakan.sebuah kenikmatan jika tanpa ada perasaan yang hadir. Makanan akan terasa biasa meski lidah bisa merasa, hal ini karena perasaan tidak hadir, sebuah lukisan akan terlihat biasa saja keindahannya meski matanya tidak buta, hal ini karena ia tidak menggunakan perasaannya. Ia tidak menghadirkan perasaannya kepada suatu benda. Benda adalah objektif Ia akan mati jika tanpa perasaan, perasaan menghidupkan benda tersebut menjadi sesuatu yang subjektif. 

Fokus, Konsisten dan Sabar

Sebuah kenikmatan pun tidak akan tercapai jika tanpa ada konsistensi. Meraka yang hanya sekedar mencoba-coba tidak akan bisa merasakan kenikmatan sesungguhnya, fokus terhadap apa yang diinginkan tenggelam dalam sebuah kenikmatan. Semakin fokus dan konsisten terhadap sesuatu maka kenikmatan tersebut akan semakin mendekat. 

Banyak yang tak merasa karena Ia hanya mencoba, sedangkan mendapatkan kenikmatan harus membutuhkan sebuah kesabaran. Bagaimana kenikmatan itu di dapat jika tidak sabar dalam menggapainya. Bukankah nilai sebuah kenikmatan itu dari sebuah kesabaran, jika kenikmatan itu mudah untuk didapatkan tentu itu bukanlah sebuah kenikmatan Ia hanya sebuah ilusi yang fana.

Makin lama makin bertambah

Semakin konsisten maka kenikmatan itu akan didapat, dan semakin lama kenikmatan itu pun akan semakin bertambah. Sebuah kenikmatan tidak melihat apakah itu merusak dirinya atau tidak, Ia tidak peduli tentang sebuah kerugian. Kenikmatan pasti akan ada sebuah resiko yang didapat namun itu tiada arti jika kenikmatan sudah didapat.  

Semakin lama kenikmatan akan semakin bertambah, yang awalnya hanya mampu bertahan beberapa saat kini terus menambah durasinya. Seorang penikmat alkohol pada awalnya mungkin Ia hanya menikmati satu gelas saja, namun karen sering kenikmatan pun kian bertambah hingga akhirnya Ia mampu beberapa botol perhari. Makin lama kenikmatan itu akan sellau bertambah hingga ada kondisi yang menghentikannya. 

Candu

Candu adalah level tertinggi dalam menggapai puncak kenikmatan. Ketika candu itu sudah ad pada diri, maka kenikmatan telah menyatu dalam diri menjadi satu kesatuan hidup. Ia sulit untuk dilepaskan, Ia yang candu sudah kehilangan akalnya, yang ada hanyalah sebuah kenikmatan, mereka tak akan merasa bosan justru malah semakin bertambah. Resah, gelisah, dan rindu akan sellau dirasa jika kenikmatan itu tidak digapai. Gila adalah puncak dari sebuah kenikmatan, Ia hanya memperhatikan satu saja dan yang lain terabaikan. 

Haruskah kita menjadi manusia yang candu akan sesuatu? sebenarnya apakah itu sebuah kenikmatan? apakah itu adalah tipuan ataukah sebuah tujuan?  Semua orang berhak menilainya dengan bebas, rasa lah yang dapat menilainya bukan akal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Perlukah Seorang Perempuan Memiliki Pendidikan yang Tinggi

. Dilema Perempuan antara memilih mengurus Keluarga atau Melanjutkan Pendidikan Berbicara tentang perempuan dan pendidikan, tentunya ini menjadi dua hal yang menarik untuk dibicarakan. Sejak puluhan tahun yang lalu emansipasi wanita sering disebut-sebut oleh Kartini, sehingga kemudian hal ini menjadi sesuatu yang penting oleh sebagian kalangan. Namun, pada kenyataannya, dalam banyak hal wanita masih kerap ketinggalan, seolah memiliki sejumlah rintangan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik, salah satunya dalam bidang pendidikan. Ilustrasi (Pixabay.com) Meski sampai saat ini semua perempuan dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah seperti halnya pria, namun tidak sedikit juga perempuan yang enggan untuk melakukannya. Sebagian besar wanita merasa puas dengan pendidikan yang hanya menamatkan bangku SMA saja, bahkan ketika bisa menyelesaikan sarjana saja. Hanya sedikit perempuan yang punya keinginan untuk menempuh S2 dan juga S3, dan tentu saja jumlah untuk dua jenjang pendidikan...