Langsung ke konten utama

Yang Membuat Hidup Terasa Sumpek

Pernah tidak sih kamu mengalami hidup yang sumpek, bosan melakukan segala hal, atau tidak menginginkan hidup yang saat ini dilakukan. Mungkin hampir setiap orang pernah mengalami seperti ini. Kehidupan yang sumpek memang membuat kita menjadi malas dalam menghadapi hidup, apalagi jika tidak ada harapan cerah kedepannya, rasanya ingin mengakhiri saja hidup ini. 

(Pixabay.com)

Namun harus tahu apa sih yang membuat hidup ini sumpek, apakah itu dari pikiran kita saja atau memang kehidupan ini memang seperti itu. Sebetulnya dua-duanya bisa saja benar, baik faktor luar maupun dalam. Dari faktor luar mungkin seperti gaya hidup manusia sekarang, dimana gaya hidup sekarang aneh-aneh dan tidak berguna. Ini menjadi sebuah dilema memang, jika kita tidak mengikuti zaman kota dianggap orang kuno jika mengikuti juga memang apa bagusnya. 

Hidup ini sebetulnya simpel aslinya, hanya saja dibuat-buat buat semakin rumit. Misalnya harus merayakan ulang tahun, pesta pernikahan, dan perayaan lainnya. Memang dalam merayakan sesuatu itu boleh-boleh saja, namun apa jadinya disaat kondisi keuangan kita lagi krisis, tentu itu adalah hal yang menyebalkan. Orang lain mungkin tidak tahu menahu tentang kondisi tersebut, yang terpenting kita harus mengikuti budaya setempat. 

Budaya memang ada baiknya dan ada buruknya, baiknya mungkin menjaga tradisi dan melestarikan sehingga membuat suatu kelompok menjadi unik dan menarik. Namun disisi negatifnya, bagi kita yang tidak menyukainya dan ingin tampil beda tentu akan dianggap jelek di mata mereka. Padahal setiap orang bebas memilih apa yang dia mau, tetapi mengapa seakan hidup ini tidak ada pilihan. Harus memilih sesuai apa yang mereka inginkan. Padahal memang siapa yang menjalaninya.

Terkadang kita juga tidak sadar jika kita terjebak dalam gaya hidup, budaya atau trend sekarang. Misalnya senang di berpenampilan cantik, padahal cantik itu buatan sosial. Jika kita sesuai dengan standar sosial, kita dianggap baik kemudian banyak yang memujinya dan pada akhirnya membuat kita senang untuk melakukannya. Secara tidak sadar pujian itu padahal membuat diri kita terkontrol agar diri kita justru melakukan apa yang mereka mau. 

Dalam hal lingkup pergaulan apalagi, kita jika ingin  banyak teman tentu harus mengikuti apa yang mereka mau. Harus jalan-jalan di mall, minum di kafe makan di restoran. Padahal jika berkaca diri memang bukan gaya hidup kita. Namun demi pergaulan harus dilakukan.

Hidup ini menjadi sumpek jadinya, karena kita mengikuti apa mau mereka, bukan apa yang kita mau. Ketika hidup kita dikontrol oleh sosial, hidup kita tidak menjadi bebas. Apapun yang dilakukan, harus sesuai dengan standar sosial. 

Cara untuk melepas dari itu semua memang harus berani menentang, berani tampil beda sesuai apa yang diinginkan selama itu adalah hal yang baik. Baik dalam artian tidak merusak orang lain atau diri sendiri. Hidup dengan aturan sebetulnya boleh tetapi yang tidak boleh itu hidup yang banyak aturan, yang dimana aturan itu justru membuat kita tidak bebas dan cenderung mendiskriminasi. 

Pemahaman lebih dalamnya lagi ketika hidup kita tidak dikontrol oleh hawa nafsu. Sebenarnya yang membuat hidup kita adalah hawa nafsu. Hawa nafsu memang selalu mendorong kita kepada sesuatu hal yang tidak berguna dan tidak baik.

Melepas diri dari hawa nafsu memang sulit. Kita harus bisa menahan dari nikmat dunia. Nikmat dunia memang enak namun di balik itu semua ternyata hanya mengecewakan pada ujungnya. Jabatan, harta, dan popularitas adalah hal yang nikmat, namun itu semua justru membuat kita terbelenggu.

Kita harus mengejar-ngejar itu semua padahal itu adalah sesuatu yang fana, tidak ada yang abadi di dunia ini. Mengejar-ngejar sesuatu tentu akan membuat kita lelah pada akhirnya, pada saat itu didapatkan ternyata hanya sebuah kekosongan belaka. 

Yang paling nikmat di dunia ini memang tidak mengeja-ngejar apapun. Hidup santai menikmati apa yang ada. Bersyukur terhadap karunia tuhan tanpa ada rasa kecewa terhadap ketetapan tuhan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Perlukah Seorang Perempuan Memiliki Pendidikan yang Tinggi

. Dilema Perempuan antara memilih mengurus Keluarga atau Melanjutkan Pendidikan Berbicara tentang perempuan dan pendidikan, tentunya ini menjadi dua hal yang menarik untuk dibicarakan. Sejak puluhan tahun yang lalu emansipasi wanita sering disebut-sebut oleh Kartini, sehingga kemudian hal ini menjadi sesuatu yang penting oleh sebagian kalangan. Namun, pada kenyataannya, dalam banyak hal wanita masih kerap ketinggalan, seolah memiliki sejumlah rintangan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik, salah satunya dalam bidang pendidikan. Ilustrasi (Pixabay.com) Meski sampai saat ini semua perempuan dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah seperti halnya pria, namun tidak sedikit juga perempuan yang enggan untuk melakukannya. Sebagian besar wanita merasa puas dengan pendidikan yang hanya menamatkan bangku SMA saja, bahkan ketika bisa menyelesaikan sarjana saja. Hanya sedikit perempuan yang punya keinginan untuk menempuh S2 dan juga S3, dan tentu saja jumlah untuk dua jenjang pendidikan...