Langsung ke konten utama

Orang Rajin yang Gagal

Kata orang katanya jika ingin menjadi orang sukses maka harus menjadi orang yang rajin, menuruti perintah orang tua dan menuruti guru. Dengan demikian maka kita akan menjadi orang yang berprestasi di sekolah. Memang secara logika memang benar bahwa orang rajin itu bisa sukses, namun pada kenyataannya rupanya banyak yang rajin sering ranking satu namun nasibnya tidak seperti apa yang dibayangkan. Kebanyakan orang yang rajid justru tidak sukses dalam artian memiliki finansial dan pekerjaan yang cukup. Sedangkan orang bodoh yang pas-pasan justru bisa menjadi sukses.

Ini tentu sungguh tidak adil, bukankah usaha itu tidak menghianati hasil jika seperti ini lantas apa gunanya usaha selama ini. Haruskan kita menjadi orang yang bermalas-malasan agar menjadi orang yang sukses. Sebenarnya tidak begitu konsepnya tentu dalam menentukan sebuah kesuksesan itu memiliki banyak faktor tidak hanya rajin saja.

Ada beberapa alasan mengapa orang rajin itu tidak menjamin kesuksesan, yakni: pertama, cenderung mengikuti perintah tanpa tahu untuk apa perintah itu dilakukan. Adalah hal yang penting selain rajin yakni mengetahui dan memahami sesuatu  yang diperintahkan, tentu menuruti perintah orang tua dan guru adalah hal yang baik namun tentu saja kita harus mengetahui apa maksud dari perintah tersebut, karena tidak semua perintah itu harus diikuti jika perintah tersebut tidak baik atau merugikan diri dan orang lain. Selain itu sebuah perintah juga harus memiliki orientasi yang jelas mengenai untuk paa hal tersebut dilakukan dan apa guna dan manfaatnya. Kita ini tentu tidak di zaman dulu yang mana hanya menuruti kata guru saja sudah bisa sukses. Berbeda dengan sekarang tentu guru-guru saat ini tidak demikian dan tentu berbeda levelnya. Bahkan saat ini banyak guru-guru yang tidak manusiawi atau bahkan ia hanya sekedar mengajari murid-muridnya saja tidak ada niatan jelas untuk merubah murid menjadi lebih baik. Saat ini memang seorang murid mestinya bisa belajar di luar karena sekarang informasi sudah mulai didapat mestinya seorang murid bisa berargumen dengan gurunya mengenai sebuah persoalan. Saat ini rajin bukan sesuatu hal yang dibanggakan justru yang hebat adalah orang yang berani mengemukakan sebuah pendapat jika memang ada ketidakadilan di dalamnya.

Kedua,orang rajin itu tidak mudah untuk beradaptasi. Karena sudah terbiasa untuk mengikuti apa kata gurunya sehingga ia sebenarnya bukanlah orang yang cerdas namun ia hanya sekedar rajin saja. orang rajin bisa dikatakan tidak bisa beradaptasi karena menuruti itu berarti sebuah akal dan logika itu tunduk kepada yang lain. Ia seperti seekor kuda yang menggunakan kacamata kuda ia hanya disuruh berjalan entah mau kemana ia diarahkan. Orang rajin pun juga tidak memiliki daya kreatif dan kaku sehingga ketika dihadapkan oleh suatu persoalan ia tidak bisa memecahkannya karena ia sudah terbiasa apa kata gurunya. Padahal guru itu juga orang biasa dan bisa salah juga sehingga orang rajin itu mau gurunya salah atau tidak ia ikuti. Ini bisa dikatakan adalah orang mulia yang bermental budak, ia baik namun sayangnya mudah untuk diperalat oleh orang baik. Jadi seperti yang dikatakan di atas sebenarnya boleh-boleh saja mengikuti apa perintah guru namun tetap saja kita harus memperhatikan apakah perintah itu baik atau tidak.

Ketiga, orang rajin hanya fokus pada beberapa hal. Karena ia hanya sekedar mengikuti perintah gurunya saja sehingga ia justru mengabaikan pelajaran lainnya yang tidak diajarkan oleh gurunya. Saat ini tentu mempelajari dunia luar itu lebih penting daripada sekolah itu sendiri. karena pasti pada akhirnya memang ketika lulus sekolah kita akan dihadapkan oleh realita sehingga memang perlu kita mempersiapkan diri untuk menghadapi realita. Mengenai bagaimana caranya tentunya saat ini bisa dilakukan dengan menggali informasi di internet serta menjalin banyak koneksi dengan banyak orang. Orang yang sukses tentu tidak hanya belajar apa yang dipelajari di sekolah saja tetapi ia akan belajar lebih luar dari itu.

Kita perlu sadar bahwa sekolah hanyalah 12 tahun jadi buang-buang waktu saja jika mengerjakan PR-PR yang tidak berguna itu. Tidak jelas apa manfaatnya dan untungnya bagi kita karena hanya sedikit pelajaran yang bisa diterapkan di dunia realita. Mungkin memang saatnya pengajaran atau pendidikan di sekolah itu mesti dirubah, jangan sampai orang-orang rajin di sekolah justru malah menjadi orang gagal di kemudian hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Perlukah Seorang Perempuan Memiliki Pendidikan yang Tinggi

. Dilema Perempuan antara memilih mengurus Keluarga atau Melanjutkan Pendidikan Berbicara tentang perempuan dan pendidikan, tentunya ini menjadi dua hal yang menarik untuk dibicarakan. Sejak puluhan tahun yang lalu emansipasi wanita sering disebut-sebut oleh Kartini, sehingga kemudian hal ini menjadi sesuatu yang penting oleh sebagian kalangan. Namun, pada kenyataannya, dalam banyak hal wanita masih kerap ketinggalan, seolah memiliki sejumlah rintangan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik, salah satunya dalam bidang pendidikan. Ilustrasi (Pixabay.com) Meski sampai saat ini semua perempuan dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah seperti halnya pria, namun tidak sedikit juga perempuan yang enggan untuk melakukannya. Sebagian besar wanita merasa puas dengan pendidikan yang hanya menamatkan bangku SMA saja, bahkan ketika bisa menyelesaikan sarjana saja. Hanya sedikit perempuan yang punya keinginan untuk menempuh S2 dan juga S3, dan tentu saja jumlah untuk dua jenjang pendidikan...