Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Deforestasi Lebih Menyeramkan Dari Hutan Angker

  Hutan angker. Kata-kata itu mungkin langsung memunculkan gambaran kabut tebal, pohon-pohon menjulang dengan akar-akar yang mencuat dari tanah, dan desas-desus suara misterius di malam hari. Dalam cerita rakyat, hutan sering kali menjadi tempat yang menakutkan, penuh dengan makhluk gaib yang siap mencelakai siapa pun yang berani masuk. Namun, setelah melihat apa yang terjadi di dunia nyata, aku sadar bahwa "hantu" itu bukanlah yang paling menakutkan di hutan. Yang lebih menyeramkan adalah manusia dan keserakahannya. Deforestasi, itulah nama mimpi buruk yang sebenarnya. Tidak ada yang lebih mengerikan daripada menyaksikan pohon-pohon yang telah berdiri selama ratusan tahun tumbang hanya dalam hitungan menit. Bukan oleh badai, bukan oleh kekuatan alam, tetapi oleh mesin-mesin besar yang dioperasikan oleh manusia. Pohon-pohon yang dulu menjadi rumah bagi burung, monyet, dan harimau kini hanya menjadi tumpukan kayu. Tanah yang dulunya subur dan penuh kehidupan berubah menjadi la...

Demokrasi Boneka

Hari ini kita hidup di era di mana sebuah quote sederhana bisa menjadi hukum tak tertulis yang lebih sakral daripada peraturan resmi. "Jadilah perubahan yang ingin kamu lihat di dunia," katanya. Inspiratif, bukan? Tapi coba renungkan: perubahan apa yang mereka maksud? Apakah itu tentang menambal jalan berlubang di depan rumah, atau justru menutup lubang pemikiran kita agar terus tunduk pada status quo? Pemerintah dan para tokoh berpengaruh gemar menyajikan kata-kata manis, lengkap dengan latar musik orkestra di video kampanye mereka. Kata-kata itu menyelinap ke dalam kepala kita, menjadi mantra sehari-hari yang kita ulang-ulang. Tidak peduli seberapa absurd atau tidak relevannya, begitu diucapkan oleh seorang pejabat, motivator, atau bahkan selebgram, mendadak itu berubah menjadi undang-undang sosial. “Hidup hemat adalah kunci,” ujar salah satu menteri sambil menikmati brunch di hotel bintang lima. Tentu, hemat itu penting—untuk kita, bukan untuk mereka. Dalam realitas yang...

Pegawai Negeri Pendongeng

Pegawai negeri. Sosok yang sering digadang-gadang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, namun diam-diam dianggap sebagai tiket emas menuju kehidupan yang nyaman. Mari kita jujur, siapa sih yang tidak tergoda dengan janji-janji manis: gaji tetap, tunjangan kinerja, uang pensiunan yang mengalir hingga hari tua, bahkan tunjangan untuk istri dan anak? Belum lagi tambahan kecil-kecil seperti seragam rapi, rapat dengan nasi kotak, atau mungkin—jika sedang beruntung—bonus perjalanan dinas ke kota besar. Namun, jangan salah paham. Menjadi pegawai negeri bukan hanya tentang mengabdi kepada negara. Tidak, kawan. Itu hanyalah narasi dongeng yang sering kita dengar sejak kecil. Sebuah dongeng yang mengatakan bahwa pegawai negeri adalah pekerjaan yang mulia, penuh pengabdian, dan dihormati oleh seluruh rakyat. Nyatanya? Sepertinya tidak sesederhana itu. Coba kita lihat lebih dekat. Berapa banyak dari mereka yang benar-benar mendaftar karena ingin mengabdi kepada negara? Jangan bohong. Yang terlintas...

Dibalik Topeng Merakyat

Istilah merakyat itu seperti parfum murah yang disemprotkan untuk menutupi bau busuk. Bukan benar-benar membuat wangi, hanya membuat kita pusing karena terlalu menyengat. Katanya, merakyat itu mulia, menunjukkan seorang pejabat atau figur publik benar-benar peduli pada rakyat jelata. Tapi mari kita jujur saja: istilah ini menjijikkan. Merakyat , seolah-olah mereka adalah makhluk dari dimensi lain yang turun ke bumi untuk menyentuh kehidupan kita yang penuh debu dan peluh. Padahal, bukankah kita semua sama-sama manusia? Kalau benar mereka peduli, mengapa harus ada istilah merakyat ? Bukankah itu hanya menunjukkan bahwa mereka, para pejabat yang katanya merakyat itu, sebenarnya merasa lebih tinggi dari rakyatnya? Ini bukan lagi soal niat baik, ini soal pencitraan yang basi. Ambil contoh klasik: seorang pejabat turun ke pasar. Dengan wajah ramah yang dipaksakan, ia menanyakan harga bawang dan cabai kepada pedagang. "Berapa harga bawang hari ini, Bu?" tanyanya dengan nada penu...

Republik Pengkhianat: Di Mana Kejujuran adalah Mitos dan Pengkhianatan adalah Investasi

Di sebuah negeri yang konon dijuluki "Surga Pengkhianat", uang mengalir bak sungai limbah pabrik keruh, beracun, tapi selalu dianggap berkah oleh para penjaga gerbang kekuasaan. Di sini, para pemimpin berjalan dengan kantong kebohongan di pinggang dan senyum palsu yang telah disertifikasi oleh akademi korupsi. Mereka piawai mengubah anggaran negara menjadi tiket pesawat ke Bali, proyek fiktif untuk membangun istana di awan, atau sekadar pesta pora di lobi hotel berbintang yang dianggap sebagai "rapat penting nasional". Hasilnya? Sebuah museum kebanggaan bernama "Kegagalan Total", tapi tiket masuknya dibayar oleh rakyat yang terus bertanya: "Kapan kami bisa makan janji-janji itu?" Usaha di negeri ini ibarat bermain judi dengan dadu berbobot. Jika kau jujur, kau akan dianggap naif, layaknya anak kecil yang membawa pisau tumpul ke medan perang. Tapi jika kau pengkhianat, kau dielu-elukan sebagai pahlawan modern. Lihatlah para mantan koruptor yang ki...

Negeri Karet: Di Mana Kebenaran Bisa Dibelokkan Sejak Dalam Pikiran"

Di negeri ini, dusta bukan lagi bumbu kehidupan, melainkan menu utama yang disantap tiga kali sehari dengan lahap. Di sini, kejujuran adalah penyakit langka yang diobati dengan pil penenang bernama "Ah, Sudah Biasa." Lihatlah pedagang di pasar yang menjual mangga setengah busuk sebagai "produk organik eksklusif," sambil bersumpah atas nama Tuhan bahwa itu langsung dipetik dari surga. Tentu saja, surga yang dimaksud adalah gudang gelap di belakang toko, tempat tikus-tikus berdiskusi tentang etika bisnis. Lalu ada pengusaha dengan senyum selebriti dan janji setinggi Menara Eiffel, meski proyeknya hanya sebatas gambar di PowerPoint yang bahkan tak layak jadi screensaver. Tapi tak apa—di negeri ini, janji palsu adalah mata uang kedua setelah rupiah.   Pegawai? Oh, mereka ahli akrobat verbal. Mereka bisa mengubah bos yang otaknya lebih kosong dari kantong bekas koruptor menjadi "visioner jenius" dalam satu kalimat. "Keputusan Pak Bos selalu tepat, bahkan k...

Ironi Kecerdasan: Ketika Kejeniusan Dibungkam Sistem

Pernahkah kita merenung, mengapa sistem kerja, pendidikan, atau bahkan pemerintahan begitu antusias memulai segala sesuatu dengan tes kecerdasan? Mereka bilang, ini untuk menyaring individu terbaik—orang-orang cerdas yang kelak akan membawa perubahan. Tapi kenyataannya, di balik proses seleksi ketat ini, perubahan justru menjadi hal yang paling dihindari oleh sistem itu sendiri. Ironis, bukan? Orang-orang cerdas, yang katanya menjadi harapan bangsa, akhirnya hanya menjadi pion dalam permainan yang dirancang oleh mereka yang duduk nyaman di atas. Mengapa? Karena kecerdasan, terutama yang kritis dan inovatif, dianggap berbahaya. Pejabat tinggi, pemimpin institusi, atau bahkan birokrat kecil sekalipun, sering kali merasa terancam oleh gagasan-gagasan baru yang berpotensi "mengguncang" kemapanan mereka. Alih-alih menyambut inovasi, mereka lebih suka melindungi status quo, memastikan roda berputar di tempat tanpa ada gangguan. Cobalah perhatikan, seberapa sering individu dengan ...

Rito si Tikus Kecil

Di sudut gelap sebuah gudang tua, di balik tumpukan karung beras yang sudah lapuk, hiduplah sebuah keluarga tikus. Keluarga kecil itu terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak tikus bernama Rito. Rito adalah anak tikus yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Setiap hari, ia selalu mengamati dunia di sekitarnya, terutama kehidupan manusia yang sering ia lihat dari celah-celah dinding gudang. Namun, ada satu hal yang selalu membuatnya gelisah: kematian tetangga-tetangganya yang terjebak dalam perangkap tikus. Suatu pagi, Rito kembali menyaksikan pemandangan yang menyedihkan. Tetangganya, Banyan, seekor tikus dewasa yang dikenal sebagai tulang punggung keluarganya, mati terjebak dalam perangkap tikus. Keluarga Banyan menangis pilu, meratapi kepergiannya. Rito merasa sedih dan marah. Ia tidak mengerti mengapa hal ini terus terjadi. Ia pun mendekati ayahnya, yang sedang duduk termenung di sudut gudang. "Ayah, mengapa kita sering melihat tetangga kita mati seperti itu?" tanya Rito de...

Cumlaude di Angkringan

Didit duduk di bangku kayu yang sudah lapuk di sebuah angkringan kecil di pinggir jalan. Udara malam yang lembap menyelimuti tubuhnya, tapi yang lebih berat adalah beban di pikirannya. Gelar sarjana dengan predikat cumlaude yang ia raih dengan susah payah seolah-olah tak berarti apa-apa. Sudah berbulan-bulan ia mengirimkan lamaran kerja ke berbagai perusahaan, tapi jawaban yang ia terima selalu sama: "Maaf, posisi yang Anda lamar sudah terisi," atau "Kami akan menghubungi Anda kembali." Tapi teleponnya tak pernah berdering. Ia menyeruput kopi hitam pahit yang sudah dingin, mencoba menenangkan diri. Matanya melirik ke sekeliling, mencari sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya dari kegagalan yang terus menghantuinya. Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada seorang pria yang sedang duduk di meja sebelah. Pria itu mengenakan kaos oblong lusuh dan celana jeans robek, tapi aura percaya dirinya terpancar jelas. Didit mengenali wajah itu. Itu Jojo, teman sekelasnya dulu di S...

Naga Besi dan Emas Hitam

Di tengah hutan yang lebat, seekor anak orangutan bernama Kowi sedang bergelantungan di dahan pohon. Matanya yang tajam tiba-tiba menangkap sesuatu yang aneh di kejauhan. Ada benda besar berwarna hitam yang bergerak perlahan, mengeluarkan suara gemuruh. Benda itu seperti naga, tapi terbuat dari besi. Mulutnya yang besar seperti menggigit tanah, lalu menelannya. "Bu, lihat! Ada naga besi! Kenapa dia makan tanah?" tanya Kawi penasaran, menunjuk ke arah benda itu. Ibunya, yang sedang duduk di dahan sebelah, mengikuti arah jari Kowi. "Itu bukan naga, Nak. Itu mesin besar yang digunakan manusia. Tanah yang dimakannya itu sebenarnya emas hitam, atau batu bara." "Emas hitam? Kenapa mereka memakannya? Apa enak?" Kawi mengernyitkan dahi, tak mengerti. Ibunya menghela napas. "Mereka tidak memakannya seperti kita makan buah. Batu bara itu diambil untuk keuntungan mereka. Mereka menggunakannya untuk membuat energi, menjualnya, atau membuat barang-barang lain....

Hijau di Timur Jauh

Di sebuah negeri yang subur, hidup seekor kambing bernama Kawi. Ia tinggal di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh bukit-bukit hijau. Namun, kehijauan itu hanya ilusi belaka. Rumput-rumput yang dulu tumbuh subur kini telah habis dibabat oleh kaum kerbau yang berkuasa. Kawi merasa muak. Ia muak dengan keadaan di negerinya sendiri, di mana rumput hijau yang seharusnya menjadi hak semua kambing, kini dikuasai oleh segelintir kelompok. Kaum kerbau, yang merupakan pemimpin di negeri itu, telah menguasai hampir semua lahan subur. Mereka dan para pendukungnya hidup dalam kemewahan, sementara kambing-kambing seperti Kawi harus berjuang mati-matian hanya untuk mendapatkan sejumput rumput. Jika ada rumput yang tersisa, itu pun harus diperebutkan dengan hewan-hewan lainnya. Kawi seringkali pulang dengan perut kosong, merenungkan nasibnya yang tak kunjung membaik. “Kenapa harus seperti ini?” gumam Kawi suatu sore, sambil memandang langit yang mulai memerah. “Rumput itu seharusnya milik semua ka...

Takdir Sang Anak Ayam

Di sebuah peternakan kecil di pedesaan, seekor anak ayam bernama Kiki menetas dari telurnya. Ia adalah satu dari puluhan anak ayam yang lahir pada musim itu. Sejak kecil, Kiki selalu penasaran dengan dunia di sekitarnya. Ia sering bertanya-tanya mengapa dirinya dan keluarganya hidup di dalam kandang yang sempit, hanya diberi makan oleh manusia, dan tidak pernah bisa menjelajah dunia luar. Suatu hari, Kiki mendekati induknya, yang sedang duduk di sudut kandang sambil mematuk-matuk biji-bijian yang diberikan oleh peternak. "Ibu," tanya Kiki dengan suara kecil, "mengapa kita adalah ayam? Apa pekerjaan kita sebenarnya?" Induknya menghentikan aktivitasnya dan memandang Kiki dengan tatapan lembut namun sedih. "Nak, pekerjaan kita hanyalah bekerja untuk makan, makan, dan menjadi petelur atau pedaging," jawab induknya perlahan. "Jika kita adalah ayam petelur, hidup kita masih aman selama kita masih bisa bertelur. Tapi, ketika kita sudah tidak bisa bertelur la...

Mimpi Orang Miskin: Antara Eksperimen Sosial dan Tangga Sukses yang Patah

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang memuja kesuksesan, ada satu pertanyaan yang terus menggantung seperti bau tak sedap di ruang tamu: "Mengapa hanya segelintir orang miskin yang berhasil naik kelas, sementara sisanya terjebak dalam lumpur kemiskinan yang sama?" Apakah ini karena mereka malas? Ataukah ini adalah hasil dari sistem yang dirancang untuk memastikan bahwa tangga menuju kesuksesan hanya bisa didaki oleh mereka yang punya tali pengaman dari atas? Mari kita telusuri dengan kacamata satir, karena kadang-kadang, realita terlalu pahit untuk ditelan tanpa sedikit bumbu sindiran.   Pertama, mari kita akui bahwa ada orang miskin yang sukses. Mereka adalah pahlawan cerita rakyat modern: si penjual bakso yang jadi konglomerat, si buruh migran yang pulang membawa mobil mewah, atau si pemulung yang berhasil membangun sekolah gratis. Kisah-kisah ini dijual seperti tiket lotre: "Lihat, kamu juga bisa sukses seperti mereka! Asal rajin, jujur, dan punya mimpi besar!"* Tapi ...

Filsuf Tik-Tok: Ketika Filsafat Disingkat Jadi Caption, dan Kebijaksanaan Jadi Konten Viral

Di era di mana perhatian manusia lebih pendek dari durasi video TikTok, filsafat pun tak luput dari derasnya arus fast-food knowledge. Munculah para filsuf dadakan—mereka yang merasa cukup membaca satu paragraf pengantar buku Nietzsche atau menonton video 60 detik tentang Sartre untuk kemudian mengklaim diri sebagai ahli pemikiran. Dengan penuh percaya diri, mereka menyebarkan quote-quote singkat yang seolah-olah mengandung kebijaksanaan abadi, padahal isinya cuma copy-paste dari Goodreads. Filsafat, yang seharusnya menjadi medan perenungan mendalam, kini direduksi jadi sekadar caption Instagram atau status WhatsApp yang dibumbui hashtag #DeepThought.   Platform seperti TikTok dan Instagram menjadi panggung utama bagi para filsuf instan ini. Mereka berlomba-lomba membuat konten dengan latar belakang musik melankolis, menampilkan teks-teks seperti "Hidup ini absurd, tapi kita harus tetap tersenyum" atau "Apa arti cinta? Mungkin cinta adalah pertanyaan itu sendiri." K...

Menikah: Antara Pelarian dari Kesepian dan Investasi Pusing Seumur Hidup

Menikah. Sebuah kata yang bisa membuatmu tersenyum bahagia atau mengernyitkan dahi sambil bertanya, "Ngapain juga ya?". Di satu sisi, menikah dianggap sebagai puncak kebahagiaan—sebuah mahkota kehidupan yang diidamkan sejak kecil, ketika kita masih berpikir bahwa cinta itu seindah sinetron FTV. Tapi di sisi lain, menikah juga bisa jadi semacam trapdoor yang menjebakmu ke dalam labirin tanggung jawab, tagihan listrik, dan pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti, "Kenapa anakku lebih mirip tetangga sebelah?". Lalu, apa sebenarnya tujuan menikah? Apakah sekadar pelarian dari kesepian, atau justru investasi jangka panjang untuk mengoleksi pusing-pusing baru yang lebih premium?   Mari kita mulai dengan alasan klasik: "Aku ingin punya tempat pulang.". Ya, ketika kecil, rumah adalah tempat kita berlari setelah lelah bermain, mandi, makan, lalu tidur nyenyak di bawah selimut yang selalu hangat karena ada ibu yang menyiapkan semuanya. Tapi setelah dewasa, teruta...

Time Travel: Solusi atau Bencana Berlapis-Lapis

Bayangkan ini: Anda punya remote control untuk memutar waktu. Bukan sekadar memutar ulang adegan konyol di YouTube, tapi benar-benar mengulang hidup Anda dari titik tertentu. Anda bisa kembali ke masa SMA, menasihati diri sendiri untuk tidak pacaran dengan si doi yang ternyata cuma modal ganteng doang. Atau, lebih ambisius lagi, Anda bisa kembali ke zaman purba dan mencegah manusia menemukan api—tentu saja, dengan risiko kita semua masih makan daging mentah dan Instagram jadi penuh foto sashimi ala kadarnya. Tapi, sebelum Anda terlalu bersemangat, mari kita pikirkan lagi: apakah memutar waktu benar-benar solusi, atau justru bencana yang dibungkus dengan nostalgia?   Pertama, mari kita bicara tentang paradoks. Bayangkan Anda kembali ke masa lalu dan bertemu dengan diri sendiri yang masih lugu. Anda menasihati si kecil untuk belajar lebih giat, tidak bolos sekolah, dan jangan pernah mencoba rokok. Tapi, apa yang terjadi? Si kecil malah kaget melihat sosok "Anda" yang lebih tua,...

Survival Guide di Zona Ketidakpastian: Ketika Hidup Adalah Lotere Tanpa Tiket

Hidup di era ketidakpastian ibarat bermain Russian Roulette dengan peluru yang jumlahnya tak terhitung. Satu hari kamu bisa merasa seperti raja dunia, esoknya jadi pengemis di kerajaan sendiri. Sekolah? Itu hanya tiket masuk ke arena gladiator bernama realitas. Setelah lulus, kamu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang semuanya terasa seperti pilihan antara terjun dari lantai 10 atau lantai 20. Kuliah di mana? Kerja di mana? Jurusan apa? Pekerjaan apa? Pertanyaan-pertanyaan ini menggantung bak pedang Damocles, sementara kamu hanya bisa berharap tali pengikatnya tidak putus sebelum kamu menemukan jawaban.   Tapi tunggu dulu! Katanya, rezeki sudah diatur? Ya, mungkin diatur oleh semacam algoritma kosmik yang lebih rumit dari coding NASA. Kita hanya diberi tahu: "Berusahalah, nanti juga dapat!"—seolah-olah hidup adalah mesin slot yang akan mengeluarkan jackpot asal kita terus menarik tuas. Padahal, kenyataannya, tuas itu seringkali macet, dan jackpot-nya cuma mimpi basah di siang ...

Post-Kapitalisme: Mimpi Indah atau Mimpi Buruk?

Bayangkan sebuah dunia di mana mesin-mesin cerdas telah mengambil alih hampir semua pekerjaan manusia. Robot-robot bekerja 24/7 tanpa mengeluh, tanpa cuti, dan tanpa menuntut kenaikan gaji. Pabrik-pabrik berjalan otomatis, toko-toko melayani diri sendiri, dan bahkan seni pun diciptakan oleh algoritma. Di tengah gemuruh revolusi teknologi ini, kapitalisme—sistem yang selama berabad-abad mengandalkan eksploitasi tenaga kerja manusia—tiba-tiba menemui jalan buntu. Jika tak ada lagi pekerja yang dibayar, siapa yang akan membeli produk yang dihasilkan? Inilah awal dari era post-kapitalisme: sebuah dunia yang penuh paradoks, di mana kemakmuran dan kehancuran berjalan beriringan.   Di satu sisi, post-kapitalisme menjanjikan utopia. Dengan automasi yang meluas, biaya produksi barang dan jasa turun drastis. Segala sesuatu menjadi lebih murah, bahkan mungkin gratis. Bayangkan bisa makan siang di restoran mewah tanpa perlu membayar, karena robot koki dan pelayan tak perlu digaji. Bayangk...

Globalisasi dan Kelas Sosial: Dari Raja ke Kapitalis Tanpa Wajah

Kita sering diberitahu bahwa globalisasi adalah jembatan yang menghubungkan dunia, menciptakan peluang, dan membawa kemajuan bagi semua. Namun, kenyataannya, globalisasi lebih mirip dengan tali tambang yang semakin mempererat jeratan bagi mereka yang sudah terbelakang, sementara yang di atas semakin nyaman di puncaknya. Dulu, di masa kerajaan, struktur sosial begitu sederhana: ada raja, bangsawan, kesatria, pedagang, petani, dan rakyat jelata. Hari ini? Feodalisme mungkin sudah pudar, tetapi kelas sosial baru yang lebih kompleks justru bermunculan, kali ini dengan kepercayaan bukan pada darah biru atau wahyu ilahi, melainkan pada selembar kertas bernama uang. Di era modern, kita tidak hanya berbicara tentang kelas sosial dalam satu negara, tetapi juga di tingkat global. Negara-negara dikategorikan layaknya kasta dalam sistem global: ada negara maju yang bertindak sebagai raja dunia, negara berkembang sebagai bangsawan yang selalu ingin naik tahta, dan negara miskin sebagai rakyat jela...

Petualangan Menyelamatkan Dunia dari Sofa

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin mirip pasar loak moral, di mana keburukan dijual bebas dengan diskon "beli satu, dapat sepuluh", kita semua diam-diam ingin menjadi pahlawan super. Bukan yang terbang mengangkasa atau menghentikan peluru dengan gigi, melainkan pahlawan yang bisa mengubah penjahat jadi suci hanya dengan sekali scroll Instagram sambil minum kopi instan. Sayangnya, realitas tak semanis fantasi: kita cuma manusia biasa yang kadang lupa menyiram tanaman di pot, apalagi menyirami jiwa-jiwa yang kerontang di sekeliling. Lagi pula, buat apa repot-repot menasehati orang jahat jika mereka hanya akan membalas dengan, "Ngomong doang loe, gue juga bisa!" sambil memamerkan koleksi dosa mereka yang lebih panjang dari daftar hutang negara?   Memang, menjadi pahlawan di zaman now itu ibarat mencoba memadamkan kebakaran hutan dengan semprotan wajah. Semua orang tahu masalahnya ada di mana-mana, tapi kita lebih memilih zoom meeting untuk membahas "strategi...

Sebuah Mahakarya Pengangguran Bergelar Sarjana Tikar

Alarm berbunyi pukul lima pagi, tapi bukan untuk menyambut matahari dengan semangat early bird gets the worm, melainkan sekadar bukti bahwa kita masih punya hak istimewa untuk mematikan bunyinya dan kembali terlelap. Bangun pagi? Itu cuma ritual simbolis untuk mengingatkan bahwa sekolah sudah lama usai, tapi mental kita masih terjebak di kelas kehidupan yang sama: duduk manis, menunggu bel istirahat berbunyi, lalu pulang tanpa membawa PR kecuali pertanyaan, “Apa yang salah dengan hidup ini?” Toh, kita tidak bangun untuk kerja. Tidak. Kita bangun untuk mengecek notifikasi di HP, mengharap ada email ajaib bertuliskan, “Selamat! Anda diterima jadi office boy di perusahaan fiktif!” atau “Kami tawari Anda gaji 10 juta per jam untuk jadi ahli tidur profesional.” Sayangnya, yang datang cuma promo e-commerce yang menjajakan kabel data seharga Rp9.900—seolah-olah itu solusi untuk mengisi kekosongan jiwa.   Hidup sebagai pengangguran itu seperti jadi aktor tanpa naskah. Setiap hari kita...