Langsung ke konten utama

Demokrasi Boneka



Hari ini kita hidup di era di mana sebuah quote sederhana bisa menjadi hukum tak tertulis yang lebih sakral daripada peraturan resmi. "Jadilah perubahan yang ingin kamu lihat di dunia," katanya. Inspiratif, bukan? Tapi coba renungkan: perubahan apa yang mereka maksud? Apakah itu tentang menambal jalan berlubang di depan rumah, atau justru menutup lubang pemikiran kita agar terus tunduk pada status quo?

Pemerintah dan para tokoh berpengaruh gemar menyajikan kata-kata manis, lengkap dengan latar musik orkestra di video kampanye mereka. Kata-kata itu menyelinap ke dalam kepala kita, menjadi mantra sehari-hari yang kita ulang-ulang. Tidak peduli seberapa absurd atau tidak relevannya, begitu diucapkan oleh seorang pejabat, motivator, atau bahkan selebgram, mendadak itu berubah menjadi undang-undang sosial. “Hidup hemat adalah kunci,” ujar salah satu menteri sambil menikmati brunch di hotel bintang lima. Tentu, hemat itu penting—untuk kita, bukan untuk mereka.

Dalam realitas yang kian absurd ini, politik telah merambah ke semua aspek hidup kita. Harga makanan naik? Itu karena "dinamika global." Pajak terus membengkak? Demi “kesejahteraan bersama.” Bahkan hiburan kita tidak luput dari campur tangan politik. Apa yang kita tonton, dengarkan, dan baca—semuanya sudah difilter, diwarnai, bahkan diseleksi sedemikian rupa agar kita tetap nyaman duduk di kursi kita sambil bertepuk tangan untuk pertunjukan demokrasi boneka yang dimainkan.

Di panggung ini, demokrasi bukanlah tentang suara rakyat; ia lebih seperti dalang yang menggerakkan boneka kayu. Kita, sebagai boneka, bergerak mengikuti tarikan benang yang tersembunyi. Para pemimpin bermain peran sebagai pembela rakyat, sementara di balik layar, mereka sibuk menjaga kekuasaan mereka. Seolah-olah, kita diberi pilihan dalam pemilu, tetapi pilihannya hanya antara boneka yang berbeda warna. Tidak ada yang benar-benar berbeda; semuanya sudah diatur untuk memastikan permainan tetap berjalan sesuai rencana.

Lalu, di mana peran kita? Ah, jangan lupa: kita adalah penonton sekaligus aktor dalam skenario ini. Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang kontroversial, buzzer siap dengan narasi pembelaan. Mereka tidak hanya memperkuat posisi pemerintah; mereka menciptakan ilusi bahwa setiap langkah pemerintah adalah “untuk kebaikan bersama.” Bayangkan, sebuah tweet bisa menjadi tameng, sebuah meme bisa menjadi pedang, dan sebuah quote bisa menjadi kitab suci.

Demokrasi, katanya, adalah pemerintahan oleh rakyat, untuk rakyat, dan dari rakyat. Tapi tunggu sebentar, siapa rakyat yang dimaksud? Karena jelas, bukan kita. Rakyat yang dimaksud adalah mereka yang memiliki akses ke kekuasaan, yang bisa duduk santai di ruang ber-AC sambil membahas nasib kita tanpa pernah benar-benar memahami apa yang kita alami. Kita? Kita hanyalah angka dalam survei, statistik dalam laporan, dan suara dalam kotak suara.

Namun, yang paling ironis adalah bagaimana kita sendiri turut memperkuat status quo ini. Kita mengulang quote-quote itu tanpa berpikir kritis. Kita menyukai dan membagikan narasi yang sebenarnya mengekang kita. Kita bahkan rela berdebat dengan sesama, membela mereka yang sebenarnya tak peduli pada kita. Di mana letak kesalahan kita? Mungkin pada ketidaksadaran kita, atau mungkin karena kita terlalu sibuk bertahan hidup sehingga lupa untuk mempertanyakan.

Demokrasi, dalam bentuknya yang sekarang, hanyalah sebuah kediktatoran yang terselubung dalam kemasan mewah. Kita diberi boneka untuk dipilih, diberi janji untuk dipercayai, dan diberi narasi untuk diikuti. Sementara itu, mereka yang di atas tetap nyaman, memastikan benang-benang kekuasaan tetap kuat terikat.

Maka, saat berikutnya kamu membaca sebuah quote inspirasional atau melihat sebuah narasi megah di media sosial, cobalah berhenti sejenak. Tanyakan pada dirimu: apakah ini benar-benar untuk kebaikan bersama, atau hanya demi mempertahankan status quo yang ada? Karena sejatinya, di balik semua kata-kata indah itu, ada sebuah kekuasaan yang terus memeluk erat boneka-boneka mereka—dan kita hanyalah salah satunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Perlukah Seorang Perempuan Memiliki Pendidikan yang Tinggi

. Dilema Perempuan antara memilih mengurus Keluarga atau Melanjutkan Pendidikan Berbicara tentang perempuan dan pendidikan, tentunya ini menjadi dua hal yang menarik untuk dibicarakan. Sejak puluhan tahun yang lalu emansipasi wanita sering disebut-sebut oleh Kartini, sehingga kemudian hal ini menjadi sesuatu yang penting oleh sebagian kalangan. Namun, pada kenyataannya, dalam banyak hal wanita masih kerap ketinggalan, seolah memiliki sejumlah rintangan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik, salah satunya dalam bidang pendidikan. Ilustrasi (Pixabay.com) Meski sampai saat ini semua perempuan dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah seperti halnya pria, namun tidak sedikit juga perempuan yang enggan untuk melakukannya. Sebagian besar wanita merasa puas dengan pendidikan yang hanya menamatkan bangku SMA saja, bahkan ketika bisa menyelesaikan sarjana saja. Hanya sedikit perempuan yang punya keinginan untuk menempuh S2 dan juga S3, dan tentu saja jumlah untuk dua jenjang pendidikan...