Di negeri ini, dusta bukan lagi bumbu kehidupan, melainkan menu utama yang disantap tiga kali sehari dengan lahap. Di sini, kejujuran adalah penyakit langka yang diobati dengan pil penenang bernama "Ah, Sudah Biasa." Lihatlah pedagang di pasar yang menjual mangga setengah busuk sebagai "produk organik eksklusif," sambil bersumpah atas nama Tuhan bahwa itu langsung dipetik dari surga. Tentu saja, surga yang dimaksud adalah gudang gelap di belakang toko, tempat tikus-tikus berdiskusi tentang etika bisnis. Lalu ada pengusaha dengan senyum selebriti dan janji setinggi Menara Eiffel, meski proyeknya hanya sebatas gambar di PowerPoint yang bahkan tak layak jadi screensaver. Tapi tak apa—di negeri ini, janji palsu adalah mata uang kedua setelah rupiah.
Pegawai? Oh, mereka ahli akrobat verbal. Mereka bisa mengubah bos yang otaknya lebih kosong dari kantong bekas koruptor menjadi "visioner jenius" dalam satu kalimat. "Keputusan Pak Bos selalu tepat, bahkan ketika salah!" begitulah mantra sakti untuk naik jabatan. Sementara sang bos, dengan wajah poker face, menjanjikan kenaikan gaji yang hanya akan terwujud di alam mimpi—atau mungkin di akhirat, jika para karyawan rajin sedekah. Tapi jangan khawatir, para pemuka agama siap membantu mengalihkan fokusmu dari gaji yang tak kunjung naik ke dosa-dosa yang harus ditebus dengan uang. "Sedekah itu investasi akhirat!" seru mereka, sambil menyetor dana ke rekening pribadi dengan keterangan "pembangunan masjid megah"—yang entah ada di planet mana.
Polisi dan penjahat? Mereka pasangan komedi terbaik sejak Laurel dan Hardy. Pencuri ditangkap dengan drama televisi, lalu dibagi-bagi rezeki hasil rampokan di pos polisi sambil minum kopi bersama. Hakim? Ah, mereka maestro dalih. "Ini sudah sesuai undang-undang," katanya, sambil mengetuk palu dengan gaya bak dirigen orkestra—padahal partitur yang dibaca adalah cek dari pihak berduit. Lalu, para narapidana yang masuk penjara sebagai pencuri ayam keluar sebagai profesor korupsi. Lembaga pemasyarakatan di sini bukan tempat rehabilitasi, melainkan kampus elit tempat para kriminal menyusun skripsi tentang "Cara Menggandakan Uang Haram dalam 7 Hari."
Guru? Mereka pahlawan tanpa tanda jasa yang dengan ikhlas memberi nilai 90 untuk ujian yang jawabannya lebih mirip ramalan zodiak. "Untuk apa remedial? Nanti stres dan nilai sekolah turun," bisik mereka, sambil mengganti lembar jawaban dengan stempel "Lulus Bersyarat"—istilah keren untuk "yang penting lewat." Murid-murid pun belajar bahwa kejujuran hanya ada di buku agama, sementara di dunia nyata, contekan adalah ritual wajib sebelum ujian. Dan di rumah, para orang tua pura-pura tidak tahu anaknya juara kelas karena menyontek, sambil berbisik, "Biarin, yang penting masuk perguruan tinggi favorit."
Pernikahan? Oh, itu hanya kontrak kolaborasi untuk pamer di Instagram. Suami yang bersumpah setia di pelaminan sambil menyimpan nomor selingkuhan di kontak bernama "Pak RT." Istri yang mengunggah foto kebahagiaan #CoupleGoals, sambil memendam hasrat untuk mantan yang masih suka kirim pesan "Apa kabar?" tengah malam. Di negeri ini, cinta sejati adalah mitos—yang ada hanyalah partnership untuk menjaga gengsi dan warisan.
Di tengah semua ini, kita masih bertanya: mengapa negeri ini tak kunjung maju? Ah, sudahlah. Di sini, kebohongan adalah oksigen. Kejujuran adalah alergi. Jika kau ingin bertahan, belajarlah menjadi badut yang mahir tertawa di balik topeng. Atau, seperti kata pepatah lokal: "Jangan jadi pahlawan, jadi pengkhianat saja—lebih banyak untungnya." Toh, di negeri karet, kebenaran hanya bisa lurus jika dibelokkan.
Komentar
Posting Komentar