Di sebuah negeri yang konon dijuluki "Surga Pengkhianat", uang mengalir bak sungai limbah pabrik keruh, beracun, tapi selalu dianggap berkah oleh para penjaga gerbang kekuasaan. Di sini, para pemimpin berjalan dengan kantong kebohongan di pinggang dan senyum palsu yang telah disertifikasi oleh akademi korupsi. Mereka piawai mengubah anggaran negara menjadi tiket pesawat ke Bali, proyek fiktif untuk membangun istana di awan, atau sekadar pesta pora di lobi hotel berbintang yang dianggap sebagai "rapat penting nasional". Hasilnya? Sebuah museum kebanggaan bernama "Kegagalan Total", tapi tiket masuknya dibayar oleh rakyat yang terus bertanya: "Kapan kami bisa makan janji-janji itu?"
Usaha di negeri ini ibarat bermain judi dengan dadu berbobot. Jika kau jujur, kau akan dianggap naif, layaknya anak kecil yang membawa pisau tumpul ke medan perang. Tapi jika kau pengkhianat, kau dielu-elukan sebagai pahlawan modern. Lihatlah para mantan koruptor yang kini menjadi penasihat anti-korupsi, atau para politikus yang mengkampanyekan "transparansi" sambil menyimpan kunci gudang harta karun hasil rampokan. Mereka adalah bintang-bintang reality show bernama "Siapa Mau Jadi Pengkhianat?" di mana hadiah utamanya adalah kekebalan hukum dan tiket VIP ke surga fana para penipu.
Yang lucu atau tragis adalah betapa sistem ini telah menjadi sirkus tanpa penonton waras. Para pelawak di panggung parlemen berteriak tentang "reformasi", sementara tangan mereka sibuk menggaruk punggung sesama pencuri. Lembaga-lembaga yang seharusnya menjadi penjaga nurani bangsa justru menjelma menjadi mesin pencetak pengkhianat berkualitas ekspor. Mereka mengadakan seminar "Cara Mengkhianati Rakyat dengan Elegan" dan workshop "Teknik Memanipulasi Data tanpa Jejak Digital". Di negeri ini, pengkhianatan bukan lagi dosa, melainkan skill yang harus dimuat di CV.
Rakyat? Oh, mereka hanya figuran dalam drama kolosal ini. Ada yang mencoba melawan, tapi suara mereka dikubur di bawah ceceran uang suap dan ancaman pasal karet. Jika beruntung, mereka akan dijuluki "pembangkang" dan dihadiahi tiket penginapan gratis di balik jeruji besi. Sisanya memilih bungkam, menonton panggung kejahatan itu sambil berbisik: "Daripada ribut, mending ikut arus siapa tahu dapat kecipratan rezeki haram." Benarlah kata pepatah lokal: "Lebih baik mencuri dengan senyum daripada jujur dengan air mata."
Tapi suatu hari, muncul seorang "pahlawan" nekat yang ingin membabat benalu sampai ke akar. Ia mengacungkan golok keadilan, berteriak hendak memberantas para perampok berdasi. Apa respons negara? Tentu saja ia dianggap gangguan. Para penjaga sirkus segera menghadangnya dengan senjata andalan: pasal pidana tentang "pencemaran nama baik institusi", tuduhan makar, atau sekadar kecelakaan misterius di jalan sepi. Sebab, di Republik Pengkhianat, membunuh benalu dianggap lebih berbahaya daripada membiarkannya tumbuh subur. "Jangan sentuh parasit itu!"* kata mereka. "Mereka adalah penyumbang utama PDB khayalan kita!"
Akhirnya, negeri ini tetap menjadi taman bermain bagi para pengkhianat. Setiap pagi, para pembohong sarapan dengan uang rakyat, para pencuri mandi di kolam anggaran fiktif, dan para pengkhianat berkumpul untuk menyanyikan lagu kebangsaan: "Majulah Pengkhianatku, Hancurkan Kejujuran di Bumi Surgawi Ini!". Sementara itu, rakyat hanya bisa menunggu entah sampai kapan sebuah mukjizat yang mungkin tak akan pernah datang. Atau, mungkin mereka sudah terlalu lelah untuk peduli, karena di Republik ini, satu-satunya yang pasti hanyalah ketidakpastian... dan tawa para pengkhianat yang terus menggema di istana-istana kebohongan.
Komentar
Posting Komentar