Langsung ke konten utama

Dibalik Topeng Merakyat

Istilah merakyat itu seperti parfum murah yang disemprotkan untuk menutupi bau busuk. Bukan benar-benar membuat wangi, hanya membuat kita pusing karena terlalu menyengat. Katanya, merakyat itu mulia, menunjukkan seorang pejabat atau figur publik benar-benar peduli pada rakyat jelata. Tapi mari kita jujur saja: istilah ini menjijikkan. Merakyat, seolah-olah mereka adalah makhluk dari dimensi lain yang turun ke bumi untuk menyentuh kehidupan kita yang penuh debu dan peluh.

Padahal, bukankah kita semua sama-sama manusia? Kalau benar mereka peduli, mengapa harus ada istilah merakyat? Bukankah itu hanya menunjukkan bahwa mereka, para pejabat yang katanya merakyat itu, sebenarnya merasa lebih tinggi dari rakyatnya? Ini bukan lagi soal niat baik, ini soal pencitraan yang basi.

Ambil contoh klasik: seorang pejabat turun ke pasar. Dengan wajah ramah yang dipaksakan, ia menanyakan harga bawang dan cabai kepada pedagang. "Berapa harga bawang hari ini, Bu?" tanyanya dengan nada penuh perhatian. Pedagang pun menjawab dengan hati-hati, takut salah kata, karena di belakang pejabat itu ada kawalan polisi dan tentara, lengkap dengan senjata. Lucu, bukan? Bagaimana rakyat bisa merasa dekat kalau kehadirannya saja sudah membuat mereka gugup?

Dan setelah kunjungan singkat itu, muncullah berita besar: "Pejabat X Merakyat, Kunjungi Pasar Tradisional." Foto-foto pun tersebar, menunjukkan sang pejabat sedang memegang timbangan atau mencoba menawar harga. Seolah-olah itu adalah pencapaian besar yang layak mendapat tepuk tangan. Tapi coba pikir lagi, apakah setelah itu harga cabai turun? Apakah kehidupan pedagang berubah? Tidak. Yang berubah hanyalah jumlah likes di media sosialnya dan mungkin citranya di mata rakyat yang terlalu sibuk bekerja untuk berpikir kritis.

Merakyat itu bukan solusi, hanya kosmetik. Jika mereka benar-benar ingin menyelesaikan problem rakyat, mereka tidak perlu turun ke pasar untuk sekadar bertanya. Duduklah dengan serius, pelajari data, dengarkan para ahli, dan buat kebijakan yang nyata. Tapi tentu saja, itu tidak cukup dramatis untuk masuk berita.

Yang lebih ironis, mereka yang katanya merakyat ini sering kali tidak benar-benar memahami rakyat. Bagaimana bisa? Mereka hidup di rumah besar dengan AC menyala 24 jam, makan makanan yang tidak pernah mereka masak sendiri, dan tidur di kasur empuk yang harganya setara gaji setahun buruh. Apa mereka tahu bagaimana rasanya antri minyak goreng? Apa mereka tahu bagaimana rasanya dihina karena tidak mampu membayar sekolah anak? Tidak, mereka tidak tahu, dan yang lebih menyedihkan, mereka tidak peduli.

Merakyat seharusnya bukan soal turun ke jalan atau ke pasar dengan kamera siap merekam setiap langkah. Kalau mau benar-benar dekat dengan rakyat, jadilah seperti rakyat: tanpa pengawalan, tanpa pretensi. Duduk di warung kopi, dengarkan cerita rakyat tanpa perlu membawa sepasukan wartawan. Tapi tentu saja, ini terlalu sederhana untuk mereka yang hidupnya sudah jauh dari kesederhanaan.

Rakyat tidak butuh pejabat yang turun ke jalan dengan senyum palsu dan janji manis. Yang rakyat butuhkan adalah pemimpin yang paham masalah mereka dan tahu bagaimana menyelesaikannya. Bukan yang sok dekat tapi asing di mata rakyat. Bukankah seorang sahabat akan berkata jujur? Rakyat tidak butuh simpati palsu, mereka butuh solusi nyata.

Jadi, berhentilah bermain dengan istilah merakyat. Istilah itu tidak lebih dari tameng populis yang penuh kepalsuan. Jika memang peduli, buktikan dengan tindakan, bukan dengan drama murahan. Kalau tidak bisa, lebih baik diam saja daripada terus mempermalukan diri dengan pura-pura menjadi dewa yang turun ke bumi. Sebab pada akhirnya, rakyat lebih paham siapa yang benar-benar peduli dan siapa yang hanya bermain sandiwara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan tidak Menciptakan Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak- hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Lalu apakah kemiskinan itu tuhan sendiri yang menciptakannya atau manusia sendirilah yang menciptakan kemiskinan tersebut. Akan tetapi banyak dari kalangan kita yang sering menyalahkan tuhan, mengenai ketimpangan sosial di dunia ini. Sehingga tuhan dianggap tidak mampu menuntaskan kemiskinan. (Pixabay.com) Jika kita berfikir ulang mengenai kemiskinan yang terjadi dindunia ini. Apakah tuhan memang benar-benar menciptakan sebuah kemiskinan ataukah manusia sendirilah yang sebetulnya menciptakan kemiskinan tersebut. Alangkah lebih baiknya kita semestinya mengevaluasi diri tentang diri kita, apa yang kurang dan apa yang salah karena suatu akibat itu pasti ada sebabnya. Tentunya ada tiga faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi, yakni pertama faktor  mindset dan prilaku diri sendiri, dimana yang membuat seseorang...

Pendidikan yang Humanis

Seperti yang kita kenal pendidikan merupakan suatu lembaga atau forum agar manusia menjadi berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan merupakan tolak ukur sebuah kemajuan bangsa. Semakin baik sistem pendidikannya maka semakin baik pula negaranya, semakin buruk sistem pendidikannya semakin buruk pula negara tersebut. Ironisnya di negara ini, pendidikan menjadi sebuah beban bagi para murid. Terlalu banyaknya pelajaran, kurangnya pemerataan, kurangnya fasilitas, dan minimnya tenaga pengajar menjadi PR bagi negara ini. Saat ini pendidikan di negara kita hanyalah sebatas formalitas, yang penting dapat ijazah terus dapat kerja. Seakan-akan kita adalah robot yang di setting dan dibentuk menjadi pekerja pabrik. Selain itu, ilmu-ilmu yang kita pelajari hanya sebatas ilmu hapalan dan logika. Akhlak dan moral dianggap hal yang tebelakang. Memang ada pelajaran agama di sekolah namu hal tersebut tidaklah cukup. Nilai tinggi dianggap orang yang hebat. Persaingan antar sesama pelajar mencipta...

Perlukah Seorang Perempuan Memiliki Pendidikan yang Tinggi

. Dilema Perempuan antara memilih mengurus Keluarga atau Melanjutkan Pendidikan Berbicara tentang perempuan dan pendidikan, tentunya ini menjadi dua hal yang menarik untuk dibicarakan. Sejak puluhan tahun yang lalu emansipasi wanita sering disebut-sebut oleh Kartini, sehingga kemudian hal ini menjadi sesuatu yang penting oleh sebagian kalangan. Namun, pada kenyataannya, dalam banyak hal wanita masih kerap ketinggalan, seolah memiliki sejumlah rintangan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik, salah satunya dalam bidang pendidikan. Ilustrasi (Pixabay.com) Meski sampai saat ini semua perempuan dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah seperti halnya pria, namun tidak sedikit juga perempuan yang enggan untuk melakukannya. Sebagian besar wanita merasa puas dengan pendidikan yang hanya menamatkan bangku SMA saja, bahkan ketika bisa menyelesaikan sarjana saja. Hanya sedikit perempuan yang punya keinginan untuk menempuh S2 dan juga S3, dan tentu saja jumlah untuk dua jenjang pendidikan...