Istilah merakyat itu seperti parfum murah yang disemprotkan untuk menutupi bau busuk. Bukan benar-benar membuat wangi, hanya membuat kita pusing karena terlalu menyengat. Katanya, merakyat itu mulia, menunjukkan seorang pejabat atau figur publik benar-benar peduli pada rakyat jelata. Tapi mari kita jujur saja: istilah ini menjijikkan. Merakyat, seolah-olah mereka adalah makhluk dari dimensi lain yang turun ke bumi untuk menyentuh kehidupan kita yang penuh debu dan peluh.
Padahal, bukankah kita semua sama-sama manusia? Kalau benar mereka peduli, mengapa harus ada istilah merakyat? Bukankah itu hanya menunjukkan bahwa mereka, para pejabat yang katanya merakyat itu, sebenarnya merasa lebih tinggi dari rakyatnya? Ini bukan lagi soal niat baik, ini soal pencitraan yang basi.
Ambil contoh klasik: seorang pejabat turun ke pasar. Dengan wajah ramah yang dipaksakan, ia menanyakan harga bawang dan cabai kepada pedagang. "Berapa harga bawang hari ini, Bu?" tanyanya dengan nada penuh perhatian. Pedagang pun menjawab dengan hati-hati, takut salah kata, karena di belakang pejabat itu ada kawalan polisi dan tentara, lengkap dengan senjata. Lucu, bukan? Bagaimana rakyat bisa merasa dekat kalau kehadirannya saja sudah membuat mereka gugup?
Dan setelah kunjungan singkat itu, muncullah berita besar: "Pejabat X Merakyat, Kunjungi Pasar Tradisional." Foto-foto pun tersebar, menunjukkan sang pejabat sedang memegang timbangan atau mencoba menawar harga. Seolah-olah itu adalah pencapaian besar yang layak mendapat tepuk tangan. Tapi coba pikir lagi, apakah setelah itu harga cabai turun? Apakah kehidupan pedagang berubah? Tidak. Yang berubah hanyalah jumlah likes di media sosialnya dan mungkin citranya di mata rakyat yang terlalu sibuk bekerja untuk berpikir kritis.
Merakyat itu bukan solusi, hanya kosmetik. Jika mereka benar-benar ingin menyelesaikan problem rakyat, mereka tidak perlu turun ke pasar untuk sekadar bertanya. Duduklah dengan serius, pelajari data, dengarkan para ahli, dan buat kebijakan yang nyata. Tapi tentu saja, itu tidak cukup dramatis untuk masuk berita.
Yang lebih ironis, mereka yang katanya merakyat ini sering kali tidak benar-benar memahami rakyat. Bagaimana bisa? Mereka hidup di rumah besar dengan AC menyala 24 jam, makan makanan yang tidak pernah mereka masak sendiri, dan tidur di kasur empuk yang harganya setara gaji setahun buruh. Apa mereka tahu bagaimana rasanya antri minyak goreng? Apa mereka tahu bagaimana rasanya dihina karena tidak mampu membayar sekolah anak? Tidak, mereka tidak tahu, dan yang lebih menyedihkan, mereka tidak peduli.
Merakyat seharusnya bukan soal turun ke jalan atau ke pasar dengan kamera siap merekam setiap langkah. Kalau mau benar-benar dekat dengan rakyat, jadilah seperti rakyat: tanpa pengawalan, tanpa pretensi. Duduk di warung kopi, dengarkan cerita rakyat tanpa perlu membawa sepasukan wartawan. Tapi tentu saja, ini terlalu sederhana untuk mereka yang hidupnya sudah jauh dari kesederhanaan.
Rakyat tidak butuh pejabat yang turun ke jalan dengan senyum palsu dan janji manis. Yang rakyat butuhkan adalah pemimpin yang paham masalah mereka dan tahu bagaimana menyelesaikannya. Bukan yang sok dekat tapi asing di mata rakyat. Bukankah seorang sahabat akan berkata jujur? Rakyat tidak butuh simpati palsu, mereka butuh solusi nyata.
Jadi, berhentilah bermain dengan istilah merakyat. Istilah itu tidak lebih dari tameng populis yang penuh kepalsuan. Jika memang peduli, buktikan dengan tindakan, bukan dengan drama murahan. Kalau tidak bisa, lebih baik diam saja daripada terus mempermalukan diri dengan pura-pura menjadi dewa yang turun ke bumi. Sebab pada akhirnya, rakyat lebih paham siapa yang benar-benar peduli dan siapa yang hanya bermain sandiwara.
Komentar
Posting Komentar