Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Nyaman Tak Selamanya Aman

Sebuah kenyamanan hari ini diperlakukan seperti oase di tengah gurun sosial. Semua orang haus. Semua orang lelah. Semua orang ingin dipeluk—atau setidaknya divalidasi. Maka ketika seorang yang kesepian, yang sejak kecil merasa seperti kursi cadangan dalam keluarga sendiri, tiba-tiba didatangi sosok “pahlawan”, rasanya seperti menemukan Wi-Fi gratis di tengah hutan. Sinyalnya kuat. Password-nya: perhatian. Ironisnya, yang paling cepat memberi rasa aman sering kali bukan yang paling sehat, tapi yang paling lihai membaca celah. Ia datang membawa empati instan, dukungan tanpa diminta, arah hidup yang terdengar mantap. Seolah-olah ia punya kompas moral bawaan lahir. Padahal bisa saja ia sendiri sedang tersesat—hanya lebih percaya diri dalam menunjuk jalan. Dari situ lahirlah hubungan yang “nyaman”. Nyaman karena ada yang mendengar. Nyaman karena ada yang selalu ada. Nyaman karena akhirnya ada yang memilih kita. Kenyamanan ini pelan-pelan berubah menjadi ketergantungan. Ketergantungan beru...

Apa Benar Kita Hidup Bebas

Kita hidup di zaman yang katanya paling bebas dalam sejarah manusia. Bebas memilih tontonan di Netflix, bebas memesan makan lewat GoFood, bebas memamerkan kebebasan itu di Instagram. Luar biasa. Leluhur kita mungkin hanya bisa memilih antara lapar atau lebih lapar, sedangkan kita bisa memilih antara ayam geprek level 3 atau level 10. Inilah puncak peradaban, bukan? Dulu orang bersyukur bisa makan daging setahun sekali. Sekarang kita bisa makan apa saja, kapan saja, selama saldo masih ada. Dulu hiburan adalah cerita dari tetangga atau radio berderak. Sekarang film terbaru rilis global bisa ditonton di kamar, sendirian, dengan cahaya biru yang perlahan menggerogoti tidur. Dan kita menyebutnya kemajuan. Kita menyebutnya kebebasan. Namun kebebasan macam apa yang membuat tangan kita refleks mencari ponsel setiap lima menit? Kebebasan macam apa yang membuat notifikasi terasa seperti panggilan suci yang tak boleh diabaikan? Kita bilang kita bebas memilih, padahal algoritma sudah lebih dulu ...