Sebuah kenyamanan hari ini diperlakukan seperti oase di tengah gurun sosial. Semua orang haus. Semua orang lelah. Semua orang ingin dipeluk—atau setidaknya divalidasi. Maka ketika seorang yang kesepian, yang sejak kecil merasa seperti kursi cadangan dalam keluarga sendiri, tiba-tiba didatangi sosok “pahlawan”, rasanya seperti menemukan Wi-Fi gratis di tengah hutan. Sinyalnya kuat. Password-nya: perhatian. Ironisnya, yang paling cepat memberi rasa aman sering kali bukan yang paling sehat, tapi yang paling lihai membaca celah. Ia datang membawa empati instan, dukungan tanpa diminta, arah hidup yang terdengar mantap. Seolah-olah ia punya kompas moral bawaan lahir. Padahal bisa saja ia sendiri sedang tersesat—hanya lebih percaya diri dalam menunjuk jalan. Dari situ lahirlah hubungan yang “nyaman”. Nyaman karena ada yang mendengar. Nyaman karena ada yang selalu ada. Nyaman karena akhirnya ada yang memilih kita. Kenyamanan ini pelan-pelan berubah menjadi ketergantungan. Ketergantungan beru...