Dalam panggung politik dunia, ada satu negara yang sering tampil seperti sutradara sekaligus aktor utama: Amerika Serikat. Ia berbicara tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan dengan suara lantang—seolah-olah dunia ini sebuah seminar besar tentang moralitas yang dipimpin olehnya. Namun, seperti banyak drama besar dalam sejarah, realitas sering kali lebih rumit daripada slogan yang terdengar indah di podium internasional. Salah satu panggung utama tempat kekuasaan itu terlihat adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di dalam Dewan Keamanan PBB, Amerika Serikat memiliki hak veto—sebuah tombol “tidak setuju” yang bisa menghentikan keputusan global. Bersama beberapa negara besar lain, tombol ini memberi kemampuan luar biasa untuk membentuk arah kebijakan internasional. Secara teori, hak veto dibuat untuk menjaga keseimbangan kekuatan dunia setelah Perang Dunia II. Dalam praktiknya, kadang terasa seperti mikrofon yang hanya bisa dimatikan oleh segelintir orang di ruangan yang sangat...